Berpikir tentang pasar dengan filosofi Ramadan



Menggunakan filosofi Ramadan untuk memikirkan pasar memberikan sudut pandang yang melampaui analisis teknikal semata. Ia memandang pasar sebagai cermin yang memantulkan sifat manusia, keinginan, kesabaran, dan kesadaran kolektif, bukan sekadar mesin yang naik turun. Praktik inti Ramadan—puasa (Sawm), disiplin diri, refleksi (Tafakkur), sedekah (Zakat/Sadaqah), dan kepercayaan kepada Allah (Tawakkul)—semuanya dapat langsung dipetakan ke aspek psikologis dan strategi dalam trading dan investasi.

1. Puasa → Menahan nafsu dan FOMO (Fear Of Missing Out)
Ramadan melalui puasa penuh dari matahari terbit hingga terbenam melatih umat untuk mengendalikan keinginan dasar (nafsu makan). Bentuk “penahanan posisi” secara fisik ini sangat mirip dengan disiplin dalam trading:
Pasar paling mudah membuat orang “lapar lalu makan sembarangan”—membeli di puncak, bottom fishing, sering ganti posisi.
Filosofi Ramadan mengingatkan: kepuasan sejati bukan berasal dari memenuhi kebutuhan secara instan (keuntungan jangka pendek), melainkan dari melewati masa kekosongan dan mendapatkan kejernihan serta kekuatan. Banyak studi menunjukkan bahwa di negara-negara mayoritas Muslim, selama Ramadan, rata-rata pengembalian pasar saham jauh lebih tinggi dibandingkan waktu lain dalam setahun (beberapa studi awal bahkan menyebutkan mendekati 9 kali lipat), dan volatilitas justru menurun. Ini bukan karena “keajaiban”, melainkan kemungkinan besar karena puasa membawa stabilitas emosional, mengurangi impuls spekulatif, dan meningkatkan pola pikir jangka panjang, menciptakan kombinasi langka “volatilitas rendah + return positif”.

2. Refleksi (Tafakkur) → Melakukan review investasi secara rutin dan menyelaraskan nilai
Ramadan mendorong refleksi berkali-kali setiap hari: Apakah hari ini saya menyimpang dari jalan yang benar? Apakah tindakan saya melayani tujuan yang lebih tinggi? Dalam konteks pasar:
Melakukan “puasa spiritual” secara wajib setiap bulan (atau setiap kuartal): Matikan semua layar, jangan lihat pasar, dan tinjau kembali logika posisi sebelumnya, catatan emosi, serta apakah melanggar prinsip investasi sendiri.
Ajukan tiga pertanyaan ala Ramadan:
Apa niat (niyyah) dari investasi ini? Apakah untuk mengejar keuntungan cepat atau menciptakan nilai jangka panjang?
Apakah investasi ini merugikan orang lain atau masyarakat (termasuk produk dengan leverage tinggi, industri yang merusak lingkungan)?
Jika besok hari raya Eid, apakah saya berani membawa posisi saat ini ke “penghakiman hari”? Kebiasaan “membersihkan diri” secara rutin ini dapat secara signifikan mengurangi bias kognitif seperti konfirmasi bias, efek endowment, dan efek disposition.

3. Sedekah dan Zakat → Mengubah pandangan kekayaan dari “zero-sum” menjadi “positive-sum”
Ramadan menekankan kewajiban zakat (biasanya 2.5%) dan sedekah sukarela, bertujuan agar kekayaan mengalir, bukan menumpuk. Metafora pasar:
Menumpuk uang tunai dalam jangka panjang atau terlalu terkonsentrasi dalam satu posisi sama seperti kekayaan yang tidak membayar zakat—akan “busuk”.
Melakukan rebalancing secara moderat, mengambil keuntungan secara berkala, dan menginvestasikan ke arah yang memiliki nilai sosial (ESG, proyek komunitas, bahkan amal langsung) justru dapat membawa ketenangan batin dan pertumbuhan majemuk jangka panjang. Larangan utama dalam keuangan Islam (melarang riba, gharar berlebihan, dan maysir perjudian) sebenarnya juga melindungi trader dari jebakan “mengeksploitasi orang lain melalui waktu atau ketidakpastian”, yang sangat sejalan dengan saran dalam keuangan perilaku modern untuk menghindari leverage berlebihan dan short selling tanpa dasar.

4. Tawakkul (Kepercayaan) dan Sabr (Kesabaran) → Sikap mental menghadapi ketidakpastian
Dalam Ramadan, manusia menyerahkan “mampukah makan besok” kepada Allah, bentuk “melepaskan” ini sebenarnya adalah manajemen risiko tertinggi. Dalam trading, yang paling sulit bukanlah mencari sinyal, melainkan:
Menerima dengan tenang jika sinyal salah
Tidak tamak saat mendapatkan keuntungan besar
Tidak hancur saat mengalami kerugian besar
Tawakkul bukan pasrah pasif, melainkan “berusaha semampunya, menyerahkan hasil kepada Allah”—melakukan manajemen risiko, pengelolaan posisi, dan riset, lalu menyerahkan hasilnya ke pasar (atau kekuatan yang lebih tinggi). Sikap ini dapat menghindarkan dari kesalahan fatal seperti trading balas dendam, menambah posisi untuk rata-rata, dan panic cut loss.

Ringkasan: Daftar trading/investasi ala Ramadan
Setiap hari: seperti berpuasa, tetapkan aturan “yang tidak boleh dilanggar” (batas maksimum drawdown, batas kerugian harian, waktu tidak melihat pasar).
Setiap bulan: seperti melakukan “pembersihan” sebelum Ramadan berakhir, lakukan review lengkap portofolio “ibtila” (ujian).
Setiap tahun: anggap Ramadan sebagai “bulan reset tahunan”, evaluasi apakah nafsu, amarah, dan kebodohan selama 12 bulan terakhir mempengaruhi pengambilan keputusan.
Selalu: anggap fluktuasi pasar sebagai “ujian” (ibtila), bukan “musuh” atau “ATM”. Melihat pasar dengan filosofi Ramadan, akhirnya bukan untuk “mengalahkan” pasar, melainkan untuk melihat dan menaklukkan diri sendiri melalui pasar sebagai kaca pembesar. Ketika Anda mampu menunggu dengan tenang di tengah lonjakan dan penurunan harga, seperti menunggu suara beduk buka puasa di hari ke-20 Ramadan, Anda sudah lebih dekat dari kebanyakan peserta untuk mencapai “kebebasan”.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)