Frasa “hanya dua hal yang pasti dalam hidup: kematian dan pajak” menjadi makna yang sangat keras bagi selebriti yang melanggar Perbendaharaan Negara. Meskipun kekayaan, pengaruh, dan akses mereka ke penasihat hukum terbaik, banyak artis papan atas, atlet, dan konglomerat bisnis yang menemukan bahwa penggelapan pajak memiliki konsekuensi yang bahkan tidak bisa dihindari oleh ketenaran. Selebriti yang dipenjara karena penggelapan pajak menjadi pengingat tegas bahwa Paman Sam memperlakukan semua pelanggar secara setara—baik mereka nama besar maupun warga biasa.
Menurut data IRS, individu dengan penghasilan lebih dari $500.000 per tahun menghadapi pengawasan audit yang lebih ketat. Kelompok ini termasuk selebriti, menjadikan mereka sasaran utama tindakan penegakan pajak. Ketika selebriti berpenghasilan tinggi berusaha menghindari kewajiban pajak melalui penipuan atau ketidakpatuhan yang disengaja, mereka sering berhadapan dengan penuntutan federal, denda besar, dan hukuman penjara yang bisa berlangsung bertahun-tahun.
Hollywood Menghadapi Pengadilan: Kasus-Kasus Terkenal Penggelapan Pajak
Wesley Snipes: Mimpi Buruk Pajaknya Rp 142 Miliar
Wesley Snipes belajar pelajaran mahal tentang kepatuhan pajak saat dia dihukum pada 2008 atas tiga tuduhan pelanggaran ringan terkait pengembalian pajak yang tidak diajukan dari 1999 hingga 2001. Selama tiga tahun itu, bintang “Blade” menahan $7 juta dalam pajak federal. Aktor ini dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan mulai menjalani hukuman pada Desember 2010. Ia beralih ke tahanan rumah pada April 2013, tetapi masalahnya tidak berakhir saat dibebaskan. Pada akhir 2018, IRS memerintahkan Snipes membayar tambahan Rp 142 miliar dalam pajak tertunda dan denda, menunjukkan bagaimana konsekuensi penggelapan pajak bisa menumpuk seiring waktu.
Mike ‘The Situation’ Sorrentino: Ketika Ketampanan Reality TV Berakhir di Pintu Penjara
Personalitas “Jersey Shore” Mike Sorrentino mengetahui bahwa ketenaran di televisi nyata tidak memberi perlindungan dari hukum pajak federal saat dia mengaku bersalah atas penggelapan pajak pada Januari 2018. Sang bintang gagal membayar pajak penuh dari hampir Rp 130 miliar yang diperoleh antara 2010 dan 2012. Ia dijatuhi hukuman delapan bulan penjara, mulai menjalani hukuman pada Januari 2019 dan dibebaskan pada 12 September 2019. Kasusnya menjadi contoh bahwa bahkan tokoh televisi terkenal pun menghadapi konsekuensi hukum yang sama seperti warga lain yang terbukti bersalah atas kejahatan pajak.
Ja Rule: Utang Pajak Rp 43 Miliar
Rapper Ja Rule (Jeffrey Atkins) mengaku bersalah pada Maret 2011 karena gagal mengajukan pengembalian pajak dari penghasilan lebih dari Rp 43 miliar. Ia dijatuhi hukuman 28 bulan penjara dan setuju membayar Rp 15,3 miliar dalam pajak tertunda. Ia mendapatkan pembebasan awal pada Mei 2013 tetapi tetap berada di tahanan rumah hingga akhir Juli tahun itu. Kasusnya menjadi pelajaran tentang ketidaklengkapan pengajuan pajak di kalangan artis berpenghasilan tinggi.
Legenda Olahraga dan Masalah Pajak
Pete Rose: Raja Hit Baseball Gagal Menghindar dari IRS
Legenda baseball Pete Rose dihukum karena penggelapan pajak pada 1990 setelah gagal melaporkan lebih dari Rp 5,1 miliar dari penjualan memorabilia, tanda tangan, dan aktivitas judi. Ia dijatuhi hukuman lima bulan penjara dan denda Rp 700 juta. Setelah bebas, Rose harus menyelesaikan tiga bulan di rumah penampungan dan melakukan 1.000 jam kerja sosial. Kasusnya tetap menjadi salah satu contoh paling menonjol dalam dunia olahraga tentang bagaimana kejayaan atlet tidak bisa melindungi dari penegakan pajak.
Darryl Strawberry: Atlet Baseball Hadapi Dakwaan Federal
Pada Desember 1994, pemain baseball Darryl Strawberry dan agen nya menghadapi dakwaan federal atas penggelapan pajak. Strawberry gagal melaporkan lebih dari Rp 7,6 miliar penghasilan yang diperoleh antara 1986 dan 1990. Ia mengaku bersalah pada Februari 1995 dan dijatuhi hukuman tiga bulan penjara serta tiga bulan tahanan rumah, menurut catatan pengadilan.
Industri Musik dan Korban Pajak
Lauryn Hill: Tiga Bulan di Penjara karena Utang Pajak Rp 25 Miliar
Lauryn Hill belajar bahwa kesuksesan musik membawa tantangan tersendiri dalam kepatuhan pajak saat dia dijatuhi hukuman tiga bulan penjara pada 2013 karena gagal membayar sekitar Rp 25 miliar pajak dari 2005 hingga 2007. Hill kemudian menghadapi pengawasan lagi pada 2016 saat muncul laporan masalah pajak tambahan, meskipun dia menjelaskan melalui media sosial bahwa ini terkait penyelesaian yang sedang berlangsung, bukan pelanggaran baru. Kasusnya menunjukkan bagaimana kewajiban pajak bisa mengejar selebriti bertahun-tahun setelah masa penghasilan.
Willie Nelson: Legenda Musik Country dan Penyelesaian Pajak Kreatif
Willie Nelson menghadapi beban pajak terbesar dalam industri musik saat IRS datang pada 1991. Nelson berutang Rp 236 miliar termasuk bunga dan denda, sebagian karena praktik akuntansi yang ceroboh. Daripada menghadapi denda tradisional, tim hukum Nelson menegosiasikan penyelesaian Rp 84 miliar. Untuk membantu pembayaran, Nelson merilis album spesial, “The IRS Tapes: Who’ll Buy My Memories?” yang menghasilkan Rp 52 miliar untuk pembayaran pajak—pendekatan kreatif yang unik dalam menyelesaikan kasus penggelapan pajak besar.
Fat Joe: Empat Bulan di Penjara karena Penggelapan Pajak Rp 45 Miliar
Rapper Fat Joe (Joseph Cartagena) mengaku bersalah pada 2012 atas dua tuduhan gagal mengajukan pengembalian pajak dari penghasilan lebih dari Rp 45 miliar. Sebelum dihukum, dia membayar Rp 5 miliar dalam pajak tertunda. Ia dijatuhi hukuman empat bulan penjara, denda Rp 200 juta, dan satu tahun pengawasan. Ia mendapatkan pembebasan awal pada Hari Thanksgiving 2013, menurut laporan.
Toni Braxton: Dua Dekade Masalah Pajak Berulang
Toni Braxton mengalami masalah keuangan selama 20 tahun, termasuk beberapa pengajuan kebangkrutan pada 1998 dan 2010. Pada 2010, dia berutang sekitar Rp 5,6 miliar ke IRS. Setelah melunasi utang itu, dia menghadapi tambahan Rp 7 miliar dalam pajak tertunda pada 2018 dari penghasilan sebelumnya. Masalah pajaknya yang berulang menunjukkan bagaimana salah kelola keuangan di kalangan selebriti sering melibatkan siklus utang dan sengketa pembayaran.
Marc Anthony: Beberapa Hak Tanggungan Pajak atas Properti
Penyanyi dan mantan suami Jennifer Lopez, Marc Anthony, menghadapi kewajiban pajak besar saat pengelolaan keuangannya bermasalah. Pada 2007, pajaknya yang belum dibayar mencapai Rp 35 miliar—penemuan yang mengejutkannya karena salah pengelolaan oleh pihak ketiga. Situasi memburuk pada 2010 saat dia dikenai dua hak tanggungan pajak terpisah total Rp 47 miliar terhadap properti di Long Island, menunjukkan bagaimana masalah penggelapan pajak bisa bertambah seiring waktu.
Pengusaha dan Entertainer
Joe Francis: Pendiri ‘Girls Gone Wild’ Divonis Penggelapan Pajak
Joe Francis, pendiri “Girls Gone Wild,” mengaku bersalah atas dua tuduhan pelanggaran ringan terkait pengajuan pengembalian pajak palsu pada September 2009. Dia menahan Rp 7 miliar dari bunga dan suap petugas penjara. Francis diperintahkan membayar hampir Rp 3,7 miliar sebagai restitusi dan dijatuhi hukuman 301 hari (sudah dijalani) plus satu tahun masa percobaan—hasil yang relatif lunak dibandingkan kasus penggelapan pajak besar lainnya.
H. Ty Warner: Pembuat Beanie Babies dan Penghasilan Tidak Dilaporkan Rp 350 Miliar
H. Ty Warner, pencipta fenomena Beanie Babies, mengaku bersalah atas penggelapan pajak pada Oktober 2013. Dari 1996 hingga 2007, Warner gagal melaporkan setidaknya Rp 36 miliar dari bunga rekening Swiss, sehingga menghindari setidaknya Rp 8 miliar pajak. Ia juga tidak mengajukan laporan FBAR tahunan terkait rekening asing. Dalam kesepakatan, Warner setuju membayar Rp 226 miliar dalam pajak dan bunga plus denda Rp 7,6 miliar. Meskipun pedoman merekomendasikan 46-57 bulan penjara, Warner menghindari hukuman penjara dan menerima dua tahun masa percobaan serta 500 jam kerja sosial.
Heidi Fleiss: ‘Madam Hollywood’ Dipenjara karena Penggelapan Pajak
Mantan “Madam Hollywood” Heidi Fleiss dijatuhi hukuman 37 bulan penjara pada 1997 karena penggelapan pajak dan pencucian uang. Ia menjalani 20 bulan sebelum dibebaskan ke rumah penampungan untuk menyelesaikan hukuman, menunjukkan bahwa bahkan bisnis non-tradisional pun menghadapi konsekuensi serius atas pelanggaran pajak.
Ikon Properti dan Mode
Teresa dan Joe Giudice: Bintang ‘Real Housewives’ Hadapi Tuduhan Federal
Bintang “The Real Housewives of New Jersey” Teresa dan Joe Giudice didakwa pada Juli 2013 atas 39 tuduhan penipuan dan pajak, dengan tuduhan tambahan pada November 2013. Joe menghadapi tuduhan gagal mengajukan pengembalian pajak dari 2004 hingga 2008. Teresa mengaku bersalah atas empat tuduhan, sementara Joe mengaku bersalah atas lima tuduhan, termasuk tidak mengajukan pajak penghasilan. Pada Oktober 2014, Teresa dijatuhi hukuman 15 bulan dan Joe 41 bulan. Pasangan ini diperintahkan membayar Rp 5,8 miliar sebagai restitusi. Teresa dibebaskan setelah 11 bulan pada Desember 2015. Joe mulai menjalani hukuman pada Maret 2016 dan dideportasi ke Italia pada Oktober 2019 setelah selesai, dan masih menunggu proses deportasi.
Leona Helmsley: ‘Ratu Kejam’ Membayar Harga
Hotel mogul Leona Helmsley dihukum pada 1992 karena menghindari Rp 24 miliar pajak. Ia dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan 750 jam kerja sosial. Meski hanya menjalani 21 bulan, hakim menambah 150 jam kerja sosial lagi setelah menemukan bahwa karyawan melakukan sebagian jam kerjanya—menegaskan citra kontroversialnya.
Dolce & Gabbana: Desainer Mode Italia dan Hukuman Pajak
Duo desainer Domenico Dolce dan Stefano Gabbana menghadapi tuduhan penggelapan pajak di Italia karena gagal mengajukan pengembalian terkait penjualan merek utama mereka ke Gado di Luxembourg pada 2004. Pada Juni 2013, keduanya dihukum karena ketidakmengajukan, tetapi putusan dibatalkan pada Oktober 2014. Kasus ini menunjukkan bahwa penuntutan penggelapan pajak melintasi benua dan industri mewah.
Kasus-Kasus Lain yang Patut Dicatat
Stephen Baldwin: Nasihat Pajak Buruk dan Pengakuan Bersalah
Aktor Stephen Baldwin mengaku bersalah pada Maret 2013 karena gagal membayar pajak penghasilan New York untuk 2008, 2009, dan 2010, total Rp 5,6 miliar. Baldwin menyatakan bahwa penghindaran pajak ini disebabkan nasihat buruk dari pengacara dan akuntan, bukan karena penipuan sengaja. Ia menghindari hukuman penjara dan melunasi utangnya dalam satu tahun.
Richard Hatch: Pelanggaran Pajak Berulang ‘Survivor’
Pemenang “Survivor” Richard Hatch dinyatakan bersalah atas penggelapan pajak dan pengajuan pengembalian palsu karena gagal melaporkan penghasilan lebih dari Rp 14 miliar dari 2000-2001. Ia dijatuhi hukuman 51 bulan penjara pada Mei 2006 dan dibebaskan pada Oktober 2009. Namun, ia kembali ke penjara pada 2011 karena gagal mengajukan dan membayar pajak 2000-2001 sesuai perintah. Ia menjalani tambahan sembilan bulan sebelum dibebaskan Desember 2011.
Sophia Loren: Aktris Italia dan Pembenaran Pajak
Pada 1982, aktris legendaris Italia Sophia Loren menjalani 17 hari dari hukuman 30 hari karena penggelapan pajak, mengklaim bahwa kesalahan pengembalian 1974 disebabkan kelalaian dari penasihat pajaknya yang telah meninggal. Pada Oktober 2013, Mahkamah Agung Roma menyatakan perhitungan 1974 benar, membenarkan dia setelah puluhan tahun.
Chuck Berry: Legenda Rock dan Hukuman Penjara Federal
Pelopor rock and roll Chuck Berry dihukum karena penggelapan pajak pada 1979. Ia menjalani 120 hari di penjara federal, empat tahun masa percobaan, dan 1.000 jam kerja sosial karena gagal melaporkan penghasilan dari konser dan royalti musik.
Martha Stewart: Diva Rumah Tangga dan Sengketa Pajak
Martha Stewart menghadapi utang pajak tertunda Rp 3,1 miliar dari penghasilan 1991 dan 1992. Ia berargumen tidak berutang apa-apa karena menghabiskan lebih dari setengah tahun di luar New York, tinggal di Connecticut. Pengadilan menolak argumennya dan ia menyelesaikan kewajibannya.
Nicolas Cage: Utang Pajak Rp 210 Miliar
Nicolas Cage mengungkapkan pada 2010 bahwa meskipun telah membayar lebih dari Rp 1,0 triliun dalam pajak selama kariernya, dia masih berutang Rp 2,9 miliar ke IRS, termasuk Rp 4,1 miliar dari 2008. Cage menyatakan bahwa dia tetap membayar pajak tahun berikutnya dan akan melunasi semua kewajiban yang tertunda.
Sinbad: Komedian dan Utang Pajak Rp 124 Miliar
Komedian dan aktor Sinbad mengajukan kebangkrutan pada 2013, mengklaim berutang Rp 11,4 miliar dari 1998-2006. Ia juga melaporkan gagal membayar pajak negara dan federal sejak 2009, menunjukkan bagaimana utang pajak bisa menumpuk saat pembayaran tidak dilakukan secara menyeluruh.
Pelajaran Umum: Selebriti yang Dipenjara karena Penggelapan Pajak
23 kasus ini menunjukkan tema konsisten: kekayaan dan ketenaran tidak memberi pengecualian dari hukum pajak federal. Baik melalui penipuan sengaja, pengelolaan keuangan yang buruk, maupun kelalaian akuntansi, individu berpenghasilan tinggi menghadapi sistem peradilan yang sama dengan warga lainnya. Hukuman penjara, denda jutaan dolar, dan penyitaan aset adalah konsekuensi nyata yang dialami selebriti saat berusaha menghindari kewajiban pajak mereka. IRS, dengan sumber daya investigasi dan kemitraan penuntutan yang besar, memastikan bahwa bahkan nama paling terkenal pun akhirnya harus menanggung kewajiban pajaknya. Kasus-kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang penerapan hukum pajak secara universal.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ketika Ketenaran Gagal Melindungi Anda: Selebriti yang Menghabiskan Waktu di Penjara karena Penggelapan Pajak
Frasa “hanya dua hal yang pasti dalam hidup: kematian dan pajak” menjadi makna yang sangat keras bagi selebriti yang melanggar Perbendaharaan Negara. Meskipun kekayaan, pengaruh, dan akses mereka ke penasihat hukum terbaik, banyak artis papan atas, atlet, dan konglomerat bisnis yang menemukan bahwa penggelapan pajak memiliki konsekuensi yang bahkan tidak bisa dihindari oleh ketenaran. Selebriti yang dipenjara karena penggelapan pajak menjadi pengingat tegas bahwa Paman Sam memperlakukan semua pelanggar secara setara—baik mereka nama besar maupun warga biasa.
Menurut data IRS, individu dengan penghasilan lebih dari $500.000 per tahun menghadapi pengawasan audit yang lebih ketat. Kelompok ini termasuk selebriti, menjadikan mereka sasaran utama tindakan penegakan pajak. Ketika selebriti berpenghasilan tinggi berusaha menghindari kewajiban pajak melalui penipuan atau ketidakpatuhan yang disengaja, mereka sering berhadapan dengan penuntutan federal, denda besar, dan hukuman penjara yang bisa berlangsung bertahun-tahun.
Hollywood Menghadapi Pengadilan: Kasus-Kasus Terkenal Penggelapan Pajak
Wesley Snipes: Mimpi Buruk Pajaknya Rp 142 Miliar
Wesley Snipes belajar pelajaran mahal tentang kepatuhan pajak saat dia dihukum pada 2008 atas tiga tuduhan pelanggaran ringan terkait pengembalian pajak yang tidak diajukan dari 1999 hingga 2001. Selama tiga tahun itu, bintang “Blade” menahan $7 juta dalam pajak federal. Aktor ini dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan mulai menjalani hukuman pada Desember 2010. Ia beralih ke tahanan rumah pada April 2013, tetapi masalahnya tidak berakhir saat dibebaskan. Pada akhir 2018, IRS memerintahkan Snipes membayar tambahan Rp 142 miliar dalam pajak tertunda dan denda, menunjukkan bagaimana konsekuensi penggelapan pajak bisa menumpuk seiring waktu.
Mike ‘The Situation’ Sorrentino: Ketika Ketampanan Reality TV Berakhir di Pintu Penjara
Personalitas “Jersey Shore” Mike Sorrentino mengetahui bahwa ketenaran di televisi nyata tidak memberi perlindungan dari hukum pajak federal saat dia mengaku bersalah atas penggelapan pajak pada Januari 2018. Sang bintang gagal membayar pajak penuh dari hampir Rp 130 miliar yang diperoleh antara 2010 dan 2012. Ia dijatuhi hukuman delapan bulan penjara, mulai menjalani hukuman pada Januari 2019 dan dibebaskan pada 12 September 2019. Kasusnya menjadi contoh bahwa bahkan tokoh televisi terkenal pun menghadapi konsekuensi hukum yang sama seperti warga lain yang terbukti bersalah atas kejahatan pajak.
Ja Rule: Utang Pajak Rp 43 Miliar
Rapper Ja Rule (Jeffrey Atkins) mengaku bersalah pada Maret 2011 karena gagal mengajukan pengembalian pajak dari penghasilan lebih dari Rp 43 miliar. Ia dijatuhi hukuman 28 bulan penjara dan setuju membayar Rp 15,3 miliar dalam pajak tertunda. Ia mendapatkan pembebasan awal pada Mei 2013 tetapi tetap berada di tahanan rumah hingga akhir Juli tahun itu. Kasusnya menjadi pelajaran tentang ketidaklengkapan pengajuan pajak di kalangan artis berpenghasilan tinggi.
Legenda Olahraga dan Masalah Pajak
Pete Rose: Raja Hit Baseball Gagal Menghindar dari IRS
Legenda baseball Pete Rose dihukum karena penggelapan pajak pada 1990 setelah gagal melaporkan lebih dari Rp 5,1 miliar dari penjualan memorabilia, tanda tangan, dan aktivitas judi. Ia dijatuhi hukuman lima bulan penjara dan denda Rp 700 juta. Setelah bebas, Rose harus menyelesaikan tiga bulan di rumah penampungan dan melakukan 1.000 jam kerja sosial. Kasusnya tetap menjadi salah satu contoh paling menonjol dalam dunia olahraga tentang bagaimana kejayaan atlet tidak bisa melindungi dari penegakan pajak.
Darryl Strawberry: Atlet Baseball Hadapi Dakwaan Federal
Pada Desember 1994, pemain baseball Darryl Strawberry dan agen nya menghadapi dakwaan federal atas penggelapan pajak. Strawberry gagal melaporkan lebih dari Rp 7,6 miliar penghasilan yang diperoleh antara 1986 dan 1990. Ia mengaku bersalah pada Februari 1995 dan dijatuhi hukuman tiga bulan penjara serta tiga bulan tahanan rumah, menurut catatan pengadilan.
Industri Musik dan Korban Pajak
Lauryn Hill: Tiga Bulan di Penjara karena Utang Pajak Rp 25 Miliar
Lauryn Hill belajar bahwa kesuksesan musik membawa tantangan tersendiri dalam kepatuhan pajak saat dia dijatuhi hukuman tiga bulan penjara pada 2013 karena gagal membayar sekitar Rp 25 miliar pajak dari 2005 hingga 2007. Hill kemudian menghadapi pengawasan lagi pada 2016 saat muncul laporan masalah pajak tambahan, meskipun dia menjelaskan melalui media sosial bahwa ini terkait penyelesaian yang sedang berlangsung, bukan pelanggaran baru. Kasusnya menunjukkan bagaimana kewajiban pajak bisa mengejar selebriti bertahun-tahun setelah masa penghasilan.
Willie Nelson: Legenda Musik Country dan Penyelesaian Pajak Kreatif
Willie Nelson menghadapi beban pajak terbesar dalam industri musik saat IRS datang pada 1991. Nelson berutang Rp 236 miliar termasuk bunga dan denda, sebagian karena praktik akuntansi yang ceroboh. Daripada menghadapi denda tradisional, tim hukum Nelson menegosiasikan penyelesaian Rp 84 miliar. Untuk membantu pembayaran, Nelson merilis album spesial, “The IRS Tapes: Who’ll Buy My Memories?” yang menghasilkan Rp 52 miliar untuk pembayaran pajak—pendekatan kreatif yang unik dalam menyelesaikan kasus penggelapan pajak besar.
Fat Joe: Empat Bulan di Penjara karena Penggelapan Pajak Rp 45 Miliar
Rapper Fat Joe (Joseph Cartagena) mengaku bersalah pada 2012 atas dua tuduhan gagal mengajukan pengembalian pajak dari penghasilan lebih dari Rp 45 miliar. Sebelum dihukum, dia membayar Rp 5 miliar dalam pajak tertunda. Ia dijatuhi hukuman empat bulan penjara, denda Rp 200 juta, dan satu tahun pengawasan. Ia mendapatkan pembebasan awal pada Hari Thanksgiving 2013, menurut laporan.
Toni Braxton: Dua Dekade Masalah Pajak Berulang
Toni Braxton mengalami masalah keuangan selama 20 tahun, termasuk beberapa pengajuan kebangkrutan pada 1998 dan 2010. Pada 2010, dia berutang sekitar Rp 5,6 miliar ke IRS. Setelah melunasi utang itu, dia menghadapi tambahan Rp 7 miliar dalam pajak tertunda pada 2018 dari penghasilan sebelumnya. Masalah pajaknya yang berulang menunjukkan bagaimana salah kelola keuangan di kalangan selebriti sering melibatkan siklus utang dan sengketa pembayaran.
Marc Anthony: Beberapa Hak Tanggungan Pajak atas Properti
Penyanyi dan mantan suami Jennifer Lopez, Marc Anthony, menghadapi kewajiban pajak besar saat pengelolaan keuangannya bermasalah. Pada 2007, pajaknya yang belum dibayar mencapai Rp 35 miliar—penemuan yang mengejutkannya karena salah pengelolaan oleh pihak ketiga. Situasi memburuk pada 2010 saat dia dikenai dua hak tanggungan pajak terpisah total Rp 47 miliar terhadap properti di Long Island, menunjukkan bagaimana masalah penggelapan pajak bisa bertambah seiring waktu.
Pengusaha dan Entertainer
Joe Francis: Pendiri ‘Girls Gone Wild’ Divonis Penggelapan Pajak
Joe Francis, pendiri “Girls Gone Wild,” mengaku bersalah atas dua tuduhan pelanggaran ringan terkait pengajuan pengembalian pajak palsu pada September 2009. Dia menahan Rp 7 miliar dari bunga dan suap petugas penjara. Francis diperintahkan membayar hampir Rp 3,7 miliar sebagai restitusi dan dijatuhi hukuman 301 hari (sudah dijalani) plus satu tahun masa percobaan—hasil yang relatif lunak dibandingkan kasus penggelapan pajak besar lainnya.
H. Ty Warner: Pembuat Beanie Babies dan Penghasilan Tidak Dilaporkan Rp 350 Miliar
H. Ty Warner, pencipta fenomena Beanie Babies, mengaku bersalah atas penggelapan pajak pada Oktober 2013. Dari 1996 hingga 2007, Warner gagal melaporkan setidaknya Rp 36 miliar dari bunga rekening Swiss, sehingga menghindari setidaknya Rp 8 miliar pajak. Ia juga tidak mengajukan laporan FBAR tahunan terkait rekening asing. Dalam kesepakatan, Warner setuju membayar Rp 226 miliar dalam pajak dan bunga plus denda Rp 7,6 miliar. Meskipun pedoman merekomendasikan 46-57 bulan penjara, Warner menghindari hukuman penjara dan menerima dua tahun masa percobaan serta 500 jam kerja sosial.
Heidi Fleiss: ‘Madam Hollywood’ Dipenjara karena Penggelapan Pajak
Mantan “Madam Hollywood” Heidi Fleiss dijatuhi hukuman 37 bulan penjara pada 1997 karena penggelapan pajak dan pencucian uang. Ia menjalani 20 bulan sebelum dibebaskan ke rumah penampungan untuk menyelesaikan hukuman, menunjukkan bahwa bahkan bisnis non-tradisional pun menghadapi konsekuensi serius atas pelanggaran pajak.
Ikon Properti dan Mode
Teresa dan Joe Giudice: Bintang ‘Real Housewives’ Hadapi Tuduhan Federal
Bintang “The Real Housewives of New Jersey” Teresa dan Joe Giudice didakwa pada Juli 2013 atas 39 tuduhan penipuan dan pajak, dengan tuduhan tambahan pada November 2013. Joe menghadapi tuduhan gagal mengajukan pengembalian pajak dari 2004 hingga 2008. Teresa mengaku bersalah atas empat tuduhan, sementara Joe mengaku bersalah atas lima tuduhan, termasuk tidak mengajukan pajak penghasilan. Pada Oktober 2014, Teresa dijatuhi hukuman 15 bulan dan Joe 41 bulan. Pasangan ini diperintahkan membayar Rp 5,8 miliar sebagai restitusi. Teresa dibebaskan setelah 11 bulan pada Desember 2015. Joe mulai menjalani hukuman pada Maret 2016 dan dideportasi ke Italia pada Oktober 2019 setelah selesai, dan masih menunggu proses deportasi.
Leona Helmsley: ‘Ratu Kejam’ Membayar Harga
Hotel mogul Leona Helmsley dihukum pada 1992 karena menghindari Rp 24 miliar pajak. Ia dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan 750 jam kerja sosial. Meski hanya menjalani 21 bulan, hakim menambah 150 jam kerja sosial lagi setelah menemukan bahwa karyawan melakukan sebagian jam kerjanya—menegaskan citra kontroversialnya.
Dolce & Gabbana: Desainer Mode Italia dan Hukuman Pajak
Duo desainer Domenico Dolce dan Stefano Gabbana menghadapi tuduhan penggelapan pajak di Italia karena gagal mengajukan pengembalian terkait penjualan merek utama mereka ke Gado di Luxembourg pada 2004. Pada Juni 2013, keduanya dihukum karena ketidakmengajukan, tetapi putusan dibatalkan pada Oktober 2014. Kasus ini menunjukkan bahwa penuntutan penggelapan pajak melintasi benua dan industri mewah.
Kasus-Kasus Lain yang Patut Dicatat
Stephen Baldwin: Nasihat Pajak Buruk dan Pengakuan Bersalah
Aktor Stephen Baldwin mengaku bersalah pada Maret 2013 karena gagal membayar pajak penghasilan New York untuk 2008, 2009, dan 2010, total Rp 5,6 miliar. Baldwin menyatakan bahwa penghindaran pajak ini disebabkan nasihat buruk dari pengacara dan akuntan, bukan karena penipuan sengaja. Ia menghindari hukuman penjara dan melunasi utangnya dalam satu tahun.
Richard Hatch: Pelanggaran Pajak Berulang ‘Survivor’
Pemenang “Survivor” Richard Hatch dinyatakan bersalah atas penggelapan pajak dan pengajuan pengembalian palsu karena gagal melaporkan penghasilan lebih dari Rp 14 miliar dari 2000-2001. Ia dijatuhi hukuman 51 bulan penjara pada Mei 2006 dan dibebaskan pada Oktober 2009. Namun, ia kembali ke penjara pada 2011 karena gagal mengajukan dan membayar pajak 2000-2001 sesuai perintah. Ia menjalani tambahan sembilan bulan sebelum dibebaskan Desember 2011.
Sophia Loren: Aktris Italia dan Pembenaran Pajak
Pada 1982, aktris legendaris Italia Sophia Loren menjalani 17 hari dari hukuman 30 hari karena penggelapan pajak, mengklaim bahwa kesalahan pengembalian 1974 disebabkan kelalaian dari penasihat pajaknya yang telah meninggal. Pada Oktober 2013, Mahkamah Agung Roma menyatakan perhitungan 1974 benar, membenarkan dia setelah puluhan tahun.
Chuck Berry: Legenda Rock dan Hukuman Penjara Federal
Pelopor rock and roll Chuck Berry dihukum karena penggelapan pajak pada 1979. Ia menjalani 120 hari di penjara federal, empat tahun masa percobaan, dan 1.000 jam kerja sosial karena gagal melaporkan penghasilan dari konser dan royalti musik.
Martha Stewart: Diva Rumah Tangga dan Sengketa Pajak
Martha Stewart menghadapi utang pajak tertunda Rp 3,1 miliar dari penghasilan 1991 dan 1992. Ia berargumen tidak berutang apa-apa karena menghabiskan lebih dari setengah tahun di luar New York, tinggal di Connecticut. Pengadilan menolak argumennya dan ia menyelesaikan kewajibannya.
Nicolas Cage: Utang Pajak Rp 210 Miliar
Nicolas Cage mengungkapkan pada 2010 bahwa meskipun telah membayar lebih dari Rp 1,0 triliun dalam pajak selama kariernya, dia masih berutang Rp 2,9 miliar ke IRS, termasuk Rp 4,1 miliar dari 2008. Cage menyatakan bahwa dia tetap membayar pajak tahun berikutnya dan akan melunasi semua kewajiban yang tertunda.
Sinbad: Komedian dan Utang Pajak Rp 124 Miliar
Komedian dan aktor Sinbad mengajukan kebangkrutan pada 2013, mengklaim berutang Rp 11,4 miliar dari 1998-2006. Ia juga melaporkan gagal membayar pajak negara dan federal sejak 2009, menunjukkan bagaimana utang pajak bisa menumpuk saat pembayaran tidak dilakukan secara menyeluruh.
Pelajaran Umum: Selebriti yang Dipenjara karena Penggelapan Pajak
23 kasus ini menunjukkan tema konsisten: kekayaan dan ketenaran tidak memberi pengecualian dari hukum pajak federal. Baik melalui penipuan sengaja, pengelolaan keuangan yang buruk, maupun kelalaian akuntansi, individu berpenghasilan tinggi menghadapi sistem peradilan yang sama dengan warga lainnya. Hukuman penjara, denda jutaan dolar, dan penyitaan aset adalah konsekuensi nyata yang dialami selebriti saat berusaha menghindari kewajiban pajak mereka. IRS, dengan sumber daya investigasi dan kemitraan penuntutan yang besar, memastikan bahwa bahkan nama paling terkenal pun akhirnya harus menanggung kewajiban pajaknya. Kasus-kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang penerapan hukum pajak secara universal.