Pada usia 82 tahun, Larry Ellison mencapai apa yang jarang dilakukan oleh miliarder—menjadi orang terkaya di dunia sekaligus menyegarkan kehidupan pribadinya dengan pernikahan lagi. Pada 10 September 2025, kekayaan bersih pendiri Oracle ini melampaui 393 miliar dolar, menggeser Elon Musk dari posisi dominasi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tetapi di balik headline tentang kekayaan dan kekuasaan tersembunyi kisah yang lebih menarik—satu di mana pola petualangan pernikahannya tampak sama beraninya dengan taruhan bisnisnya. Pada Januari 2024, Ellison diam-diam menikahi Jolin Zhu, seorang wanita Amerika-Tionghoa yang 47 tahun lebih muda, menandai pernikahan kelimanya. Perkembangan terbaru ini kembali menyorot kehidupan pribadinya di mata publik, mengingatkan dunia bahwa bagi Ellison, reinventasi tidak terbatas pada strategi perusahaan—itu adalah filosofi yang meluas ke setiap aspek keberadaannya.
Dari Yatim Piatu Bronx Menjadi Raksasa Silicon Valley: Perjalanan yang Tak Terduga
Kisah bagaimana seorang bayi yang dibuang menjadi miliarder teknologi terdengar seperti mitos Silicon Valley. Lahir tahun 1944 dari ibu muda berusia 19 tahun yang belum menikah di Bronx, Ellison diserahkan untuk diadopsi saat berusia sembilan bulan. Keluarga angkatnya di Chicago mengalami kesulitan keuangan, dan ayah angkatnya bekerja sebagai pegawai pemerintah biasa. Pendidikan tingginya pun terputus-putus—dia sempat kuliah di University of Illinois di Urbana-Champaign tetapi keluar saat tahun kedua setelah ibunya angkat meninggal, lalu singkat mendaftar di University of Chicago sebelum berhenti setelah satu semester.
Alih-alih melihat disconnection ini sebagai hambatan, Ellison muda menganggapnya sebagai perubahan arah. Ia pindah-pindah berkali-kali di seluruh Amerika, mengambil posisi pemrograman sporadis di Chicago sebelum melaju ke barat menuju Berkeley, California. Di sana, ia menemukan sesuatu yang kurang dari tahun-tahun sebelumnya: rasa kebebasan dan vitalitas intelektual dari budaya kontra dan ekosistem teknologi yang hidup. “Orang-orang di sana tampak lebih bebas dan lebih pintar,” kenangnya kemudian.
Titik balik tiba di awal 1970-an saat Ellison mendapatkan posisi pemrogram di Ampex Corporation, perusahaan yang mengkhususkan diri dalam sistem penyimpanan audio dan video serta solusi pengolahan data. Di sana, ia terlibat dalam sebuah inisiatif rahasia pemerintah—merancang infrastruktur basis data untuk Central Intelligence Agency agar data dapat diakses dan dikelola lebih efisien. Proyek yang didukung CIA ini, yang diberi kode nama “Oracle,” secara tak sengaja melahirkan perusahaan yang akan membuat kekayaannya.
Pada 1977, Ellison yang berusia 32 tahun bekerja sama dengan mantan rekan Bob Miner dan Ed Oates untuk mendirikan Software Development Laboratories (SDL), masing-masing menyumbang modal—Ellison menyumbang 1.200 dolar dari dana awal 2.000 dolar. Keputusan strategis pertama mereka terbukti visioner: mengadaptasi model data relasional yang mereka rancang untuk CIA menjadi sistem basis data komersial yang umum digunakan. Mereka menamainya “Oracle.”
Reinventasi di Usia 82: Bagaimana Oracle Menguasai Perlombaan Infrastruktur AI
Selama puluhan tahun, Oracle tampak ditakdirkan sebagai pemain pendukung—andalan tapi tak terlalu revolusioner. Perusahaan ini go public di NASDAQ pada 1986 dan menjadi ikon perangkat lunak perusahaan. Namun pada awal 2000-an, saat Amazon AWS dan Microsoft Azure muncul menguasai cloud computing, Oracle mulai tertinggal. Ellison, yang dikenal dengan semangat tempurnya dan penolakannya terhadap posisi kedua, mengatur ulang strategi perusahaan.
Ketahanan itu membuahkan hasil luar biasa. Pada 10 September 2025, Oracle mengumumkan empat kontrak baru yang bernilai ratusan miliar dolar, dipimpin oleh kemitraan lima tahun senilai 300 miliar dolar dengan OpenAI. Respons pasar saham pun luar biasa: saham melonjak lebih dari 40 persen dalam satu sesi perdagangan—peningkatan harian terbesar sejak 1992. Transformasi ini sempurna secara naratif: perusahaan basis data yang sudah menua berhasil menempatkan dirinya di pusat ledakan AI generatif.
Apa yang memungkinkan kebangkitan ini? Oracle mempertahankan keunggulan mendalam yang tak bisa ditiru sebagian besar pesaing: teknologi basis data yang tak tertandingi dan hubungan yang dibangun selama empat dekade dengan pelanggan perusahaan. Lebih strategis lagi, perusahaan secara brutal merestrukturisasi tenaga kerjanya di musim panas 2025, mem-PHK ribuan karyawan yang fokus di penjualan perangkat keras lama dan divisi perangkat lunak tradisional, sekaligus mempercepat penempatan modal ke infrastruktur pusat data dan kapasitas komputasi AI. Pasar menanggapinya sebagai sinyal jelas: Oracle telah bertransformasi dari “penjual perangkat lunak lama” menjadi “penopang infrastruktur AI masa depan.”
Reinventasi Pribadi: Pernikahan, Pernikahan, dan Petualangan Pernikahan
Sejarah asmara Ellison mencerminkan perjalanan profesionalnya—ambisius, tidak konvensional, dan tampaknya menolak finalitas. Pada 2024, ia sudah menikah empat kali sebelumnya. Namun menjelang dekade kesembilannya, ia menunjukkan bahwa hasratnya terhadap petualangan pernikahan tetap menyala. Pada Januari tahun itu, muncul dokumen yang menunjukkan bahwa Ellison menikahi Jolin Zhu, seorang wanita berusia 35 tahun, lahir di Shenyang, China, dan lulusan University of Michigan.
Perbedaan usia—47 tahun—secara prediktif memicu komentar. Pengamat media sosial dengan jenaka mencatat bahwa Ellison tampak sama terpesona oleh ombak laut maupun penakluk asmara. Bagi dia, sensasi berselancar dan daya tarik pendekatan asmara tampak berasal dari sumber yang sama: kehausan tak pernah padam akan intensitas dan kebaruan.
Polanya dalam pernikahan mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang psikologi Ellison: resistensi terhadap menetap, orientasi abadi menuju bab berikutnya, pasangan berikutnya, usaha berikutnya. Baik di ruang rapat maupun di kamar tidur, Ellison secara konsisten memilih jalan yang jarang dilalui. Istrinya berasal dari berbagai generasi dan latar belakang, masing-masing pernikahan mewakili sebuah pelanggaran sadar terhadap konvensi.
Kekuasaan, Politik, dan Dinasti: Pengaruh Keluarga Ellison yang Meluas
Kekayaan Ellison telah melampaui akumulasi pribadi, menjadi kendaraan ekspansi dinasti. Putranya, David Ellison, mengatur akuisisi Paramount Global senilai 8 miliar dolar—perisai perusahaan yang menaungi CBS dan MTV—pada 2024, dengan 6 miliar dolar berasal dari sumber keluarga. Langkah ini menandai masuknya keluarga Ellison secara kalkulatif ke Hollywood, menciptakan poros yang luar biasa: teknologi di Silicon Valley (melalui Larry) bersilangan dengan media dan hiburan (melalui David).
Jejak politik keluarga pun semakin nyata. Ellison menegaskan dirinya sebagai donor dan pengaruh politik dari Partai Republik. Pada 2015, ia membiayai kampanye calon presiden Marco Rubio; pada 2022, ia menyumbang 15 juta dolar ke Super PAC milik Senator Tim Scott dari South Carolina. Yang paling mencolok, pada Januari 2025, Ellison tampil di Gedung Putih bersama Masayoshi Son dari SoftBank dan Sam Altman dari OpenAI untuk bersama-sama meluncurkan inisiatif senilai 500 miliar dolar untuk membangun jaringan pusat data AI. Teknologi Oracle akan menjadi tulang punggung proyek besar ini—sebuah perkembangan yang tidak hanya berisi peluang komersial tetapi juga posisi strategis geopolitik.
Filosofi Hidup Penuh: Atletik, Kemewahan, dan Disiplin Diri
Secara paradoks, Ellison mempersonifikasi kontradiksi. Ia mengumpulkan kekayaan mewah—kepemilikan 98% pulau Lanai di Hawaii, beberapa properti megah di California, dan kapal-kapal mewah terbaik—sementara secara bersamaan mempertahankan disiplin pribadi yang akan menantang biksu.
Hubungannya dengan air dan angin hampir obsesif. Pada 1992, kecelakaan berselancar hampir merenggut nyawanya; alih-alih mundur, ia mengubah pengalaman dekat kematian itu menjadi eksplorasi nautikal yang lebih luas. Berlayar menjadi kanvasnya. Tim Oracle USA yang disponsori meraih salah satu kebangkitan paling menakjubkan dalam kompetisi layar lepas pada 2013 saat merebut kembali America’s Cup—prestasi yang secara luas dipuji sebagai comeback terbesar dalam olahraga ini. Kemudian, pada 2018, ia mendirikan SailGP, liga balap katamaran berkecepatan tinggi yang menarik modal dari pihak tak terduga—aktor Anne Hathaway dan bintang sepak bola Mbappé menjadi investor, mengubah olahraga elit menjadi usaha yang didukung selebriti.
Tenis pun menjadi arena lain yang ia cintai. Ellison menghidupkan kembali turnamen Indian Wells di California, dengan berani menyebutnya “Grand Slam kelima”—reposisi yang kontroversial tetapi akhirnya sukses, mengangkat acara regional menjadi perhatian global.
Di balik penampilan petualang ini, tersembunyi disiplin yang paling tidak dilihat orang. Kisah dari mantan eksekutif di berbagai perusahaan Ellison menggambarkan seseorang yang menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk latihan fisik selama tahun 1990-an dan 2000-an. Pola konsumsi pun sama telitinya: menghindari minuman manis, hanya mengonsumsi air dan teh hijau, menjaga disiplin nutrisi yang tampaknya puluhan tahun lebih maju dari tren kesehatan. Kombinasi kemewahan dan pengendalian diri ini menjaga dia dalam kondisi yang sering digambarkan orang sebagai “20 tahun lebih muda dari usia kronologisnya.”
Warisan Lebih dari Kekayaan: Filantropi dan Visi Ellison untuk Masa Depan
Pada 2010, Ellison menandatangani Giving Pledge, berkomitmen menyumbangkan setidaknya 95% kekayaannya untuk kegiatan amal. Berbeda dengan tokoh seperti Bill Gates atau Warren Buffett, Ellison memilih jalur filantropi yang sangat pribadi. Seorang pewawancara dari New York Times pernah mencatat preferensinya: “Dia menghargai kesendirian dan secara sengaja menolak tekanan eksternal untuk mengikuti ortodoksi amal yang berlaku.”
Sumbangannya pun mencerminkan pendekatan individualistik ini. Pada 2016, ia menyumbang 200 juta dolar ke University of Southern California untuk infrastruktur riset kanker. Lebih jauh lagi, ia baru-baru ini mengungkapkan rencana mengarahkan sumber daya besar ke Ellison Institute of Technology, sebuah inisiatif kolaboratif dengan Oxford University yang meneliti persimpangan teknologi dengan inovasi kesehatan, pertanian berkelanjutan, dan solusi iklim. Melalui media sosial, ia mengungkapkan visinya: “Kami akan merancang generasi obat yang menyelamatkan nyawa, membangun sistem pertanian berbiaya rendah untuk ketahanan pangan global, dan mempelopori teknologi energi yang efisien dan bebas emisi.”
Tanda tangan filantropinya—personal, unik, dan menolak pengaruh dari rekan sejawat—menangkap sesuatu yang esensial tentang karakternya. Ia membangun warisan yang mencerminkan nilai-nilainya sendiri daripada mengikuti konvensi miliarder.
Kontinum Ellison: Keabadian dalam Transformasi
Pada usia 82 tahun, Larry Ellison akhirnya meraih predikat individu terkaya di umat manusia. Ia memulai perjalanan dengan kontrak basis data rahasia pemerintah, mengubah peluang itu menjadi kerajaan perangkat lunak global, lalu dengan mahir mengubah posisi organisasinya untuk menangkap permintaan infrastruktur AI yang muncul—kemenangan yang terlambat tetapi pasti. Kebangkitan profesionalnya, evolusi pernikahannya, petualangan atletiknya, keterlibatan politiknya, visi filantropinya—semuanya bukan episode terpisah, melainkan bab dalam narasi berkelanjutan tentang penolakan terhadap batasan dan usang.
Ellison tetap menjadi contrarian utama di Silicon Valley—keras kepala, kompetitif, dan secara fundamental enggan mengorbankan visinya demi konsensus. Pasangannya saat ini, peringkat kekayaannya, dan posisi pasar perusahaannya mungkin berubah mengikuti arus pasar dan keadaan pribadi, tetapi arsitektur dasarnya tetap: seorang pria yang secara konstitusional tidak mampu diam, selamanya menata ulang dirinya dan orang di sekitarnya. Apakah warisannya akhirnya akan mengangkat atau menjadi pelajaran berhati-hati bagi generasi mendatang, itu tetap menjadi penentuan sejarah yang akan datang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Serikat Kelima Maverick: Bagaimana Evolusi Pasangan Larry Ellison Mencerminkan Reinventasi Bisnisnya
Pada usia 82 tahun, Larry Ellison mencapai apa yang jarang dilakukan oleh miliarder—menjadi orang terkaya di dunia sekaligus menyegarkan kehidupan pribadinya dengan pernikahan lagi. Pada 10 September 2025, kekayaan bersih pendiri Oracle ini melampaui 393 miliar dolar, menggeser Elon Musk dari posisi dominasi yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tetapi di balik headline tentang kekayaan dan kekuasaan tersembunyi kisah yang lebih menarik—satu di mana pola petualangan pernikahannya tampak sama beraninya dengan taruhan bisnisnya. Pada Januari 2024, Ellison diam-diam menikahi Jolin Zhu, seorang wanita Amerika-Tionghoa yang 47 tahun lebih muda, menandai pernikahan kelimanya. Perkembangan terbaru ini kembali menyorot kehidupan pribadinya di mata publik, mengingatkan dunia bahwa bagi Ellison, reinventasi tidak terbatas pada strategi perusahaan—itu adalah filosofi yang meluas ke setiap aspek keberadaannya.
Dari Yatim Piatu Bronx Menjadi Raksasa Silicon Valley: Perjalanan yang Tak Terduga
Kisah bagaimana seorang bayi yang dibuang menjadi miliarder teknologi terdengar seperti mitos Silicon Valley. Lahir tahun 1944 dari ibu muda berusia 19 tahun yang belum menikah di Bronx, Ellison diserahkan untuk diadopsi saat berusia sembilan bulan. Keluarga angkatnya di Chicago mengalami kesulitan keuangan, dan ayah angkatnya bekerja sebagai pegawai pemerintah biasa. Pendidikan tingginya pun terputus-putus—dia sempat kuliah di University of Illinois di Urbana-Champaign tetapi keluar saat tahun kedua setelah ibunya angkat meninggal, lalu singkat mendaftar di University of Chicago sebelum berhenti setelah satu semester.
Alih-alih melihat disconnection ini sebagai hambatan, Ellison muda menganggapnya sebagai perubahan arah. Ia pindah-pindah berkali-kali di seluruh Amerika, mengambil posisi pemrograman sporadis di Chicago sebelum melaju ke barat menuju Berkeley, California. Di sana, ia menemukan sesuatu yang kurang dari tahun-tahun sebelumnya: rasa kebebasan dan vitalitas intelektual dari budaya kontra dan ekosistem teknologi yang hidup. “Orang-orang di sana tampak lebih bebas dan lebih pintar,” kenangnya kemudian.
Titik balik tiba di awal 1970-an saat Ellison mendapatkan posisi pemrogram di Ampex Corporation, perusahaan yang mengkhususkan diri dalam sistem penyimpanan audio dan video serta solusi pengolahan data. Di sana, ia terlibat dalam sebuah inisiatif rahasia pemerintah—merancang infrastruktur basis data untuk Central Intelligence Agency agar data dapat diakses dan dikelola lebih efisien. Proyek yang didukung CIA ini, yang diberi kode nama “Oracle,” secara tak sengaja melahirkan perusahaan yang akan membuat kekayaannya.
Pada 1977, Ellison yang berusia 32 tahun bekerja sama dengan mantan rekan Bob Miner dan Ed Oates untuk mendirikan Software Development Laboratories (SDL), masing-masing menyumbang modal—Ellison menyumbang 1.200 dolar dari dana awal 2.000 dolar. Keputusan strategis pertama mereka terbukti visioner: mengadaptasi model data relasional yang mereka rancang untuk CIA menjadi sistem basis data komersial yang umum digunakan. Mereka menamainya “Oracle.”
Reinventasi di Usia 82: Bagaimana Oracle Menguasai Perlombaan Infrastruktur AI
Selama puluhan tahun, Oracle tampak ditakdirkan sebagai pemain pendukung—andalan tapi tak terlalu revolusioner. Perusahaan ini go public di NASDAQ pada 1986 dan menjadi ikon perangkat lunak perusahaan. Namun pada awal 2000-an, saat Amazon AWS dan Microsoft Azure muncul menguasai cloud computing, Oracle mulai tertinggal. Ellison, yang dikenal dengan semangat tempurnya dan penolakannya terhadap posisi kedua, mengatur ulang strategi perusahaan.
Ketahanan itu membuahkan hasil luar biasa. Pada 10 September 2025, Oracle mengumumkan empat kontrak baru yang bernilai ratusan miliar dolar, dipimpin oleh kemitraan lima tahun senilai 300 miliar dolar dengan OpenAI. Respons pasar saham pun luar biasa: saham melonjak lebih dari 40 persen dalam satu sesi perdagangan—peningkatan harian terbesar sejak 1992. Transformasi ini sempurna secara naratif: perusahaan basis data yang sudah menua berhasil menempatkan dirinya di pusat ledakan AI generatif.
Apa yang memungkinkan kebangkitan ini? Oracle mempertahankan keunggulan mendalam yang tak bisa ditiru sebagian besar pesaing: teknologi basis data yang tak tertandingi dan hubungan yang dibangun selama empat dekade dengan pelanggan perusahaan. Lebih strategis lagi, perusahaan secara brutal merestrukturisasi tenaga kerjanya di musim panas 2025, mem-PHK ribuan karyawan yang fokus di penjualan perangkat keras lama dan divisi perangkat lunak tradisional, sekaligus mempercepat penempatan modal ke infrastruktur pusat data dan kapasitas komputasi AI. Pasar menanggapinya sebagai sinyal jelas: Oracle telah bertransformasi dari “penjual perangkat lunak lama” menjadi “penopang infrastruktur AI masa depan.”
Reinventasi Pribadi: Pernikahan, Pernikahan, dan Petualangan Pernikahan
Sejarah asmara Ellison mencerminkan perjalanan profesionalnya—ambisius, tidak konvensional, dan tampaknya menolak finalitas. Pada 2024, ia sudah menikah empat kali sebelumnya. Namun menjelang dekade kesembilannya, ia menunjukkan bahwa hasratnya terhadap petualangan pernikahan tetap menyala. Pada Januari tahun itu, muncul dokumen yang menunjukkan bahwa Ellison menikahi Jolin Zhu, seorang wanita berusia 35 tahun, lahir di Shenyang, China, dan lulusan University of Michigan.
Perbedaan usia—47 tahun—secara prediktif memicu komentar. Pengamat media sosial dengan jenaka mencatat bahwa Ellison tampak sama terpesona oleh ombak laut maupun penakluk asmara. Bagi dia, sensasi berselancar dan daya tarik pendekatan asmara tampak berasal dari sumber yang sama: kehausan tak pernah padam akan intensitas dan kebaruan.
Polanya dalam pernikahan mencerminkan sesuatu yang lebih dalam tentang psikologi Ellison: resistensi terhadap menetap, orientasi abadi menuju bab berikutnya, pasangan berikutnya, usaha berikutnya. Baik di ruang rapat maupun di kamar tidur, Ellison secara konsisten memilih jalan yang jarang dilalui. Istrinya berasal dari berbagai generasi dan latar belakang, masing-masing pernikahan mewakili sebuah pelanggaran sadar terhadap konvensi.
Kekuasaan, Politik, dan Dinasti: Pengaruh Keluarga Ellison yang Meluas
Kekayaan Ellison telah melampaui akumulasi pribadi, menjadi kendaraan ekspansi dinasti. Putranya, David Ellison, mengatur akuisisi Paramount Global senilai 8 miliar dolar—perisai perusahaan yang menaungi CBS dan MTV—pada 2024, dengan 6 miliar dolar berasal dari sumber keluarga. Langkah ini menandai masuknya keluarga Ellison secara kalkulatif ke Hollywood, menciptakan poros yang luar biasa: teknologi di Silicon Valley (melalui Larry) bersilangan dengan media dan hiburan (melalui David).
Jejak politik keluarga pun semakin nyata. Ellison menegaskan dirinya sebagai donor dan pengaruh politik dari Partai Republik. Pada 2015, ia membiayai kampanye calon presiden Marco Rubio; pada 2022, ia menyumbang 15 juta dolar ke Super PAC milik Senator Tim Scott dari South Carolina. Yang paling mencolok, pada Januari 2025, Ellison tampil di Gedung Putih bersama Masayoshi Son dari SoftBank dan Sam Altman dari OpenAI untuk bersama-sama meluncurkan inisiatif senilai 500 miliar dolar untuk membangun jaringan pusat data AI. Teknologi Oracle akan menjadi tulang punggung proyek besar ini—sebuah perkembangan yang tidak hanya berisi peluang komersial tetapi juga posisi strategis geopolitik.
Filosofi Hidup Penuh: Atletik, Kemewahan, dan Disiplin Diri
Secara paradoks, Ellison mempersonifikasi kontradiksi. Ia mengumpulkan kekayaan mewah—kepemilikan 98% pulau Lanai di Hawaii, beberapa properti megah di California, dan kapal-kapal mewah terbaik—sementara secara bersamaan mempertahankan disiplin pribadi yang akan menantang biksu.
Hubungannya dengan air dan angin hampir obsesif. Pada 1992, kecelakaan berselancar hampir merenggut nyawanya; alih-alih mundur, ia mengubah pengalaman dekat kematian itu menjadi eksplorasi nautikal yang lebih luas. Berlayar menjadi kanvasnya. Tim Oracle USA yang disponsori meraih salah satu kebangkitan paling menakjubkan dalam kompetisi layar lepas pada 2013 saat merebut kembali America’s Cup—prestasi yang secara luas dipuji sebagai comeback terbesar dalam olahraga ini. Kemudian, pada 2018, ia mendirikan SailGP, liga balap katamaran berkecepatan tinggi yang menarik modal dari pihak tak terduga—aktor Anne Hathaway dan bintang sepak bola Mbappé menjadi investor, mengubah olahraga elit menjadi usaha yang didukung selebriti.
Tenis pun menjadi arena lain yang ia cintai. Ellison menghidupkan kembali turnamen Indian Wells di California, dengan berani menyebutnya “Grand Slam kelima”—reposisi yang kontroversial tetapi akhirnya sukses, mengangkat acara regional menjadi perhatian global.
Di balik penampilan petualang ini, tersembunyi disiplin yang paling tidak dilihat orang. Kisah dari mantan eksekutif di berbagai perusahaan Ellison menggambarkan seseorang yang menghabiskan berjam-jam setiap hari untuk latihan fisik selama tahun 1990-an dan 2000-an. Pola konsumsi pun sama telitinya: menghindari minuman manis, hanya mengonsumsi air dan teh hijau, menjaga disiplin nutrisi yang tampaknya puluhan tahun lebih maju dari tren kesehatan. Kombinasi kemewahan dan pengendalian diri ini menjaga dia dalam kondisi yang sering digambarkan orang sebagai “20 tahun lebih muda dari usia kronologisnya.”
Warisan Lebih dari Kekayaan: Filantropi dan Visi Ellison untuk Masa Depan
Pada 2010, Ellison menandatangani Giving Pledge, berkomitmen menyumbangkan setidaknya 95% kekayaannya untuk kegiatan amal. Berbeda dengan tokoh seperti Bill Gates atau Warren Buffett, Ellison memilih jalur filantropi yang sangat pribadi. Seorang pewawancara dari New York Times pernah mencatat preferensinya: “Dia menghargai kesendirian dan secara sengaja menolak tekanan eksternal untuk mengikuti ortodoksi amal yang berlaku.”
Sumbangannya pun mencerminkan pendekatan individualistik ini. Pada 2016, ia menyumbang 200 juta dolar ke University of Southern California untuk infrastruktur riset kanker. Lebih jauh lagi, ia baru-baru ini mengungkapkan rencana mengarahkan sumber daya besar ke Ellison Institute of Technology, sebuah inisiatif kolaboratif dengan Oxford University yang meneliti persimpangan teknologi dengan inovasi kesehatan, pertanian berkelanjutan, dan solusi iklim. Melalui media sosial, ia mengungkapkan visinya: “Kami akan merancang generasi obat yang menyelamatkan nyawa, membangun sistem pertanian berbiaya rendah untuk ketahanan pangan global, dan mempelopori teknologi energi yang efisien dan bebas emisi.”
Tanda tangan filantropinya—personal, unik, dan menolak pengaruh dari rekan sejawat—menangkap sesuatu yang esensial tentang karakternya. Ia membangun warisan yang mencerminkan nilai-nilainya sendiri daripada mengikuti konvensi miliarder.
Kontinum Ellison: Keabadian dalam Transformasi
Pada usia 82 tahun, Larry Ellison akhirnya meraih predikat individu terkaya di umat manusia. Ia memulai perjalanan dengan kontrak basis data rahasia pemerintah, mengubah peluang itu menjadi kerajaan perangkat lunak global, lalu dengan mahir mengubah posisi organisasinya untuk menangkap permintaan infrastruktur AI yang muncul—kemenangan yang terlambat tetapi pasti. Kebangkitan profesionalnya, evolusi pernikahannya, petualangan atletiknya, keterlibatan politiknya, visi filantropinya—semuanya bukan episode terpisah, melainkan bab dalam narasi berkelanjutan tentang penolakan terhadap batasan dan usang.
Ellison tetap menjadi contrarian utama di Silicon Valley—keras kepala, kompetitif, dan secara fundamental enggan mengorbankan visinya demi konsensus. Pasangannya saat ini, peringkat kekayaannya, dan posisi pasar perusahaannya mungkin berubah mengikuti arus pasar dan keadaan pribadi, tetapi arsitektur dasarnya tetap: seorang pria yang secara konstitusional tidak mampu diam, selamanya menata ulang dirinya dan orang di sekitarnya. Apakah warisannya akhirnya akan mengangkat atau menjadi pelajaran berhati-hati bagi generasi mendatang, itu tetap menjadi penentuan sejarah yang akan datang.