Proyeksi ekonomi terbaru menghadirkan berita mengecewakan bagi para bullish kripto. Penelitian dari Adam Posen, Presiden Peterson Institute for International Economics, dan Peter R. Orszag, CEO Lazard, memproyeksikan bahwa inflasi konsumen Amerika Serikat dapat melampaui 4% dalam 2026. Temuan ini secara langsung mengancam narasi disinflasi yang telah menjadi dalih utama optimisme pasar kripto sepanjang 2025 lalu.
Ekspektasi disinflasi yang digaungkan oleh komunitas Bitcoin dan investor aset berisiko dibangun atas asumsi bahwa Federal Reserve akan agresif menurunkan suku bunga. Namun prediksi inflasi yang lebih tinggi mengubah skalkulasi tersebut. Jika harga konsumen terus naik, bank sentral Amerika akan terpaksa mengambil sikap lebih konservatif, mengecewakan mereka yang mengandalkan pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong reli pasar.
Penelitian Posen-Orszag: Inflasi Akan Melampaui Ekspektasi Disinflasi
Menurut kedua peneliti terkemuka tersebut, beberapa katalis dapat mendorong inflasi ke level yang tidak terduga. Pertama, tarif Trump atas impor diperkirakan akan ditransmisikan ke konsumen akhir dengan jeda waktu beberapa bulan. Pada pertengahan 2026, penundaan ini diproyeksikan selesai secara substansial dan dapat menambah hingga 50 basis poin pada inflasi utama. Artinya, bauran tarif komersial dan ekspektasi lebih ketat pasar tenaga kerja akan membentuk lingkungan inflasioner yang lebih tangguh.
Selain itu, kebijakan deportasi migran yang diindikasikan akan membuat pasar tenaga kerja semakin terkompresi, dengan kekurangan pekerja di sektor-sektor bergantung pada imigran. Akibatnya upah akan terdesak naik, menciptakan spiral inflasi permintaan. Defisit fiskal AS yang diproyeksikan tembus 7% dari PDB dan kondisi keuangan yang semakin longgar juga turut memperkuat tekanan ke atas pada harga-harga.
Dalam taksiran Posen dan Orszag, faktor-faktor pendorong inflasi ini lebih dominan dibanding tren penghambat yang menjadi favorit pasar—yaitu penurunan berkelanjutan inflasi perumahan dan lonjakan produktivitas dari artificial intelligence. Asumsi pasar tentang landasan disinflasi struktural ternyata tidak sesulit yang dibayangkan ketika kekuatan inflasioner makroekonomi tetap masif.
Implikasi untuk Suku Bunga dan Ekspektasi Pasar
Inflasi yang lebih tinggi akan menciptakan dilema bagi Federal Reserve. Jika harga konsumen terus meningkat, bank sentral akan sulit membenarkan pemotongan suku bunga yang agresif. Pasar saat ini mengantisipasi Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50 hingga 75 basis poin sepanjang 2026. Namun kalangan bullish kripto bahkan mengharapkan langkah yang lebih progresif.
Analisis dari tim Bitunix menangkap dinamika ini dengan presisi: risiko utama bukanlah pelonggaran kebijakan yang terlalu dini, melainkan tetap terlalu hawkish setelah disinflasi struktural dari produktivitas AI mulai berlaku. Hal ini bisa memaksa Federal Reserve untuk melakukan penyesuaian yang lebih mendadak kemudian hari. Inilah sebabnya pasar mulai memperhitungkan skenario “kebijakan pengejaran” (policy chase), di mana Fed tertinggal jauh di belakang kurva dan harus bertindak lebih dramatis untuk mengejar inflasi yang terlewat.
Obligasi Pemerintah dan Tekanan pada Aset Berisiko
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi telah mulai terrefleksi dalam pasar obligasi global. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencapai puncak lima bulan sebesar 4,31% pada awal pekan. Kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai belahan dunia, termasuk Jepang, turut menambah tekanan pada aset-aset berisiko.
Bitcoin merespons dengan penurunan. Data menunjukkan BTC turun hampir 4% menjadi level $90.000 minggu yang lalu. Memasuki periode terbaru, Bitcoin diperdagangkan di $78.20K dengan penurunan 7,06% dalam 24 jam terakhir. Tekanan ini mencerminkan rotasi capital dari aset berisiko menuju instrumen keuangan yang menawarkan yield lebih tinggi, seiring imbal hasil obligasi meningkat.
Mekanismenya sederhana: ketika obligasi pemerintah memberikan return yang lebih menarik tanpa risiko, investor akan mengevaluasi kembali alokasi ke saham dan kripto yang lebih volatil. Khususnya bagi yang memakai leverage untuk membeli aset berisiko, kenaikan rate lingkungan dapat memicu likuidasi dan selling pressure tambahan.
Krisis Ekspektasi Disinflasi dan Dampaknya pada Crypto
Apa yang terjadi saat ini adalah runtuhnya satu narasi pasar yang sangat dipercaya. Selama 2025, investor kripto membangun kisah bahwa dunia bergerak menuju disinflasi permanen berkat produktivitas AI dan normalisasi perumahan. Tesis ini membentuk fondasi bullish case untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun penelitian Posen-Orszag menunjukkan bahwa tekanan inflasioner makro masih jauh dari hilang.
Jika inflasi memang tertarik naik ke 4% atau lebih tinggi dalam 2026, narasi tersebut akan terbukti prematur. Federal Reserve akan bersikap jauh lebih keras dalam mengatur ekspektasi inflasi jangka panjang. Suku bunga yang tidak turun seperti harapan akan menjadi headwind konstan bagi valuasi aset berisiko. Sampai pada titik ini, ekspektasi pasar tentang kondisi disinflasi akan perlu dikalibrasi ulang secara fundamental.
Komunitas kripto dan investor aset berisiko kini harus menyesuaikan strategi dengan skenario inflasi persisten, bukan mengasumsikan kondisi disinflasi berkelanjutan. Keberhasilan Bitcoin dan aset berisiko lainnya dalam lingkungan ini bergantung pada apakah mereka dapat menemukan nilai intrinsik di luar ekspektasi pemangkasan suku bunga—sebuah tantangan yang jauh lebih berat daripada perjalanan bullish di bawah bayang-bayang disinflasi.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Ancaman Inflasi Membantai Ekspektasi Disinflasi, Bitcoin dan Aset Berisiko Terdepresi
Proyeksi ekonomi terbaru menghadirkan berita mengecewakan bagi para bullish kripto. Penelitian dari Adam Posen, Presiden Peterson Institute for International Economics, dan Peter R. Orszag, CEO Lazard, memproyeksikan bahwa inflasi konsumen Amerika Serikat dapat melampaui 4% dalam 2026. Temuan ini secara langsung mengancam narasi disinflasi yang telah menjadi dalih utama optimisme pasar kripto sepanjang 2025 lalu.
Ekspektasi disinflasi yang digaungkan oleh komunitas Bitcoin dan investor aset berisiko dibangun atas asumsi bahwa Federal Reserve akan agresif menurunkan suku bunga. Namun prediksi inflasi yang lebih tinggi mengubah skalkulasi tersebut. Jika harga konsumen terus naik, bank sentral Amerika akan terpaksa mengambil sikap lebih konservatif, mengecewakan mereka yang mengandalkan pelonggaran kebijakan moneter untuk mendorong reli pasar.
Penelitian Posen-Orszag: Inflasi Akan Melampaui Ekspektasi Disinflasi
Menurut kedua peneliti terkemuka tersebut, beberapa katalis dapat mendorong inflasi ke level yang tidak terduga. Pertama, tarif Trump atas impor diperkirakan akan ditransmisikan ke konsumen akhir dengan jeda waktu beberapa bulan. Pada pertengahan 2026, penundaan ini diproyeksikan selesai secara substansial dan dapat menambah hingga 50 basis poin pada inflasi utama. Artinya, bauran tarif komersial dan ekspektasi lebih ketat pasar tenaga kerja akan membentuk lingkungan inflasioner yang lebih tangguh.
Selain itu, kebijakan deportasi migran yang diindikasikan akan membuat pasar tenaga kerja semakin terkompresi, dengan kekurangan pekerja di sektor-sektor bergantung pada imigran. Akibatnya upah akan terdesak naik, menciptakan spiral inflasi permintaan. Defisit fiskal AS yang diproyeksikan tembus 7% dari PDB dan kondisi keuangan yang semakin longgar juga turut memperkuat tekanan ke atas pada harga-harga.
Dalam taksiran Posen dan Orszag, faktor-faktor pendorong inflasi ini lebih dominan dibanding tren penghambat yang menjadi favorit pasar—yaitu penurunan berkelanjutan inflasi perumahan dan lonjakan produktivitas dari artificial intelligence. Asumsi pasar tentang landasan disinflasi struktural ternyata tidak sesulit yang dibayangkan ketika kekuatan inflasioner makroekonomi tetap masif.
Implikasi untuk Suku Bunga dan Ekspektasi Pasar
Inflasi yang lebih tinggi akan menciptakan dilema bagi Federal Reserve. Jika harga konsumen terus meningkat, bank sentral akan sulit membenarkan pemotongan suku bunga yang agresif. Pasar saat ini mengantisipasi Fed akan memangkas suku bunga sebesar 50 hingga 75 basis poin sepanjang 2026. Namun kalangan bullish kripto bahkan mengharapkan langkah yang lebih progresif.
Analisis dari tim Bitunix menangkap dinamika ini dengan presisi: risiko utama bukanlah pelonggaran kebijakan yang terlalu dini, melainkan tetap terlalu hawkish setelah disinflasi struktural dari produktivitas AI mulai berlaku. Hal ini bisa memaksa Federal Reserve untuk melakukan penyesuaian yang lebih mendadak kemudian hari. Inilah sebabnya pasar mulai memperhitungkan skenario “kebijakan pengejaran” (policy chase), di mana Fed tertinggal jauh di belakang kurva dan harus bertindak lebih dramatis untuk mengejar inflasi yang terlewat.
Obligasi Pemerintah dan Tekanan pada Aset Berisiko
Proyeksi inflasi yang lebih tinggi telah mulai terrefleksi dalam pasar obligasi global. Imbal hasil Treasury AS 10 tahun mencapai puncak lima bulan sebesar 4,31% pada awal pekan. Kenaikan yield obligasi pemerintah di berbagai belahan dunia, termasuk Jepang, turut menambah tekanan pada aset-aset berisiko.
Bitcoin merespons dengan penurunan. Data menunjukkan BTC turun hampir 4% menjadi level $90.000 minggu yang lalu. Memasuki periode terbaru, Bitcoin diperdagangkan di $78.20K dengan penurunan 7,06% dalam 24 jam terakhir. Tekanan ini mencerminkan rotasi capital dari aset berisiko menuju instrumen keuangan yang menawarkan yield lebih tinggi, seiring imbal hasil obligasi meningkat.
Mekanismenya sederhana: ketika obligasi pemerintah memberikan return yang lebih menarik tanpa risiko, investor akan mengevaluasi kembali alokasi ke saham dan kripto yang lebih volatil. Khususnya bagi yang memakai leverage untuk membeli aset berisiko, kenaikan rate lingkungan dapat memicu likuidasi dan selling pressure tambahan.
Krisis Ekspektasi Disinflasi dan Dampaknya pada Crypto
Apa yang terjadi saat ini adalah runtuhnya satu narasi pasar yang sangat dipercaya. Selama 2025, investor kripto membangun kisah bahwa dunia bergerak menuju disinflasi permanen berkat produktivitas AI dan normalisasi perumahan. Tesis ini membentuk fondasi bullish case untuk Bitcoin dan aset berisiko lainnya. Namun penelitian Posen-Orszag menunjukkan bahwa tekanan inflasioner makro masih jauh dari hilang.
Jika inflasi memang tertarik naik ke 4% atau lebih tinggi dalam 2026, narasi tersebut akan terbukti prematur. Federal Reserve akan bersikap jauh lebih keras dalam mengatur ekspektasi inflasi jangka panjang. Suku bunga yang tidak turun seperti harapan akan menjadi headwind konstan bagi valuasi aset berisiko. Sampai pada titik ini, ekspektasi pasar tentang kondisi disinflasi akan perlu dikalibrasi ulang secara fundamental.
Komunitas kripto dan investor aset berisiko kini harus menyesuaikan strategi dengan skenario inflasi persisten, bukan mengasumsikan kondisi disinflasi berkelanjutan. Keberhasilan Bitcoin dan aset berisiko lainnya dalam lingkungan ini bergantung pada apakah mereka dapat menemukan nilai intrinsik di luar ekspektasi pemangkasan suku bunga—sebuah tantangan yang jauh lebih berat daripada perjalanan bullish di bawah bayang-bayang disinflasi.