Pasar cryptocurrency terus menghadapi tantangan saat investor menilai kembali risiko eksposur di tengah ketidakpastian makro yang meningkat. Bitcoin telah turun ke $84.440 dengan penurunan mingguan sebesar 6,61%, sementara Ether merosot ke $2.750. Lebih mencolok lagi, altcoin telah menanggung beban tekanan jual, dengan Solana turun 7,96% selama tujuh hari, XRP turun 8,54%, dan Cardano merosot 9,73% selama periode yang sama. Kesenjangan yang melebar antara kinerja Bitcoin dan altcoin mencerminkan dinamika pasar yang familiar selama periode ketidakpastian tinggi.
Tantangan Makro Memicu Pergeseran ke Keamanan
Ketegangan tarif terbaru antara Amerika Serikat dan Eropa—yang kembali memanas oleh komentar dari Presiden Donald Trump mengenai Greenland—telah mengguncang pasar global dan memicu rotasi risiko yang lebih luas. Modal mengalir keluar dari aset spekulatif dan cryptocurrency, dan beralih ke instrumen safe-haven tradisional. Emas dan perak mendapatkan manfaat dari pergeseran ini, mencatat reli tajam meskipun indeks saham menunjukkan ketahanan relatif. Lonjakan hasil Treasury AS telah memperburuk tekanan pada aset risiko, memperketat kondisi keuangan dan memberi beban berat terutama pada posisi berisiko tinggi seperti cryptocurrency.
Farzam Ehsani: Crypto Berperilaku Seperti Aset Berisiko Tinggi, Bukan Lindung Nilai
Menurut Farzam Ehsani, pendiri bersama dan CEO dari bursa crypto VALR, dinamika pasar terbaru menegaskan perbedaan penting dalam bagaimana modal memperlakukan aset digital. “Modal berputar ke safe haven yang sudah mapan, sementara crypto terus diperdagangkan sebagai aset risiko tinggi ber-beta tinggi,” jelas Farzam. Pengamatan ini menyoroti tantangan yang dihadapi pasar crypto: meskipun beraspirasi untuk berfungsi sebagai lindung nilai atau aset yang tidak berkorelasi, cryptocurrency terus berperilaku lebih seperti aset risiko spekulatif yang menarik trader sensitif terhadap aliran modal. Perspektif Farzam menyarankan bahwa Bitcoin mungkin kesulitan menemukan dukungan yang berkelanjutan tanpa adanya angin makroekonomi yang lebih jelas atau minat institusional yang diperbarui.
Mengapa Altcoin Lebih Sering Terkena Dampak daripada Bitcoin
Perbedaan kinerja antara Bitcoin dan altcoin sangat mencolok. Sementara Bitcoin mampu mempertahankan level support psikologis utama, token-token kecil terbukti jauh lebih rentan terhadap lingkungan risiko-off. Ini mencerminkan kecenderungan alami pasar untuk mengkonsolidasikan modal ke dalam aset terbesar dan paling likuid—Bitcoin—ketika sentimen menjadi berhati-hati, atau keluar dari pasar crypto sepenuhnya untuk mencari alternatif yang lebih aman. Analis menunjukkan bahwa pola ini muncul secara konsisten selama periode ketidakpastian makro, karena dominasi Bitcoin cenderung meningkat selama tekanan pasar.
Data Derivatif Menunjukkan Waspada di Depan
Posisi di pasar derivatif menunjukkan bahwa trader tetap defensif saat mereka mendekati pertengahan tahun. Minat leverage telah menurun secara signifikan, dengan peserta pasar tampaknya enggan untuk menempatkan taruhan arah yang agresif. Sikap defensif ini menunjukkan bahwa pasar menunggu katalis yang lebih jelas sebelum menginvestasikan modal baru—baik itu berupa arus masuk institusional yang diperbarui, data inflasi yang melonggar, sinyal yang lebih jelas tentang pemotongan suku bunga di masa depan, atau de-eskalasi ketegangan geopolitik. Untuk saat ini, harga crypto tetap terkunci dalam kisaran terbatas, dengan Bitcoin mempertahankan level support utama tetapi altcoin terus menunjukkan kelemahan relatif dan kerentanan terhadap perubahan sentimen risiko.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pendapat Pasar Farzam: Mengapa Altcoin Tertinggal di Belakang Bitcoin dalam Lingkungan Risiko Rendah
Pasar cryptocurrency terus menghadapi tantangan saat investor menilai kembali risiko eksposur di tengah ketidakpastian makro yang meningkat. Bitcoin telah turun ke $84.440 dengan penurunan mingguan sebesar 6,61%, sementara Ether merosot ke $2.750. Lebih mencolok lagi, altcoin telah menanggung beban tekanan jual, dengan Solana turun 7,96% selama tujuh hari, XRP turun 8,54%, dan Cardano merosot 9,73% selama periode yang sama. Kesenjangan yang melebar antara kinerja Bitcoin dan altcoin mencerminkan dinamika pasar yang familiar selama periode ketidakpastian tinggi.
Tantangan Makro Memicu Pergeseran ke Keamanan
Ketegangan tarif terbaru antara Amerika Serikat dan Eropa—yang kembali memanas oleh komentar dari Presiden Donald Trump mengenai Greenland—telah mengguncang pasar global dan memicu rotasi risiko yang lebih luas. Modal mengalir keluar dari aset spekulatif dan cryptocurrency, dan beralih ke instrumen safe-haven tradisional. Emas dan perak mendapatkan manfaat dari pergeseran ini, mencatat reli tajam meskipun indeks saham menunjukkan ketahanan relatif. Lonjakan hasil Treasury AS telah memperburuk tekanan pada aset risiko, memperketat kondisi keuangan dan memberi beban berat terutama pada posisi berisiko tinggi seperti cryptocurrency.
Farzam Ehsani: Crypto Berperilaku Seperti Aset Berisiko Tinggi, Bukan Lindung Nilai
Menurut Farzam Ehsani, pendiri bersama dan CEO dari bursa crypto VALR, dinamika pasar terbaru menegaskan perbedaan penting dalam bagaimana modal memperlakukan aset digital. “Modal berputar ke safe haven yang sudah mapan, sementara crypto terus diperdagangkan sebagai aset risiko tinggi ber-beta tinggi,” jelas Farzam. Pengamatan ini menyoroti tantangan yang dihadapi pasar crypto: meskipun beraspirasi untuk berfungsi sebagai lindung nilai atau aset yang tidak berkorelasi, cryptocurrency terus berperilaku lebih seperti aset risiko spekulatif yang menarik trader sensitif terhadap aliran modal. Perspektif Farzam menyarankan bahwa Bitcoin mungkin kesulitan menemukan dukungan yang berkelanjutan tanpa adanya angin makroekonomi yang lebih jelas atau minat institusional yang diperbarui.
Mengapa Altcoin Lebih Sering Terkena Dampak daripada Bitcoin
Perbedaan kinerja antara Bitcoin dan altcoin sangat mencolok. Sementara Bitcoin mampu mempertahankan level support psikologis utama, token-token kecil terbukti jauh lebih rentan terhadap lingkungan risiko-off. Ini mencerminkan kecenderungan alami pasar untuk mengkonsolidasikan modal ke dalam aset terbesar dan paling likuid—Bitcoin—ketika sentimen menjadi berhati-hati, atau keluar dari pasar crypto sepenuhnya untuk mencari alternatif yang lebih aman. Analis menunjukkan bahwa pola ini muncul secara konsisten selama periode ketidakpastian makro, karena dominasi Bitcoin cenderung meningkat selama tekanan pasar.
Data Derivatif Menunjukkan Waspada di Depan
Posisi di pasar derivatif menunjukkan bahwa trader tetap defensif saat mereka mendekati pertengahan tahun. Minat leverage telah menurun secara signifikan, dengan peserta pasar tampaknya enggan untuk menempatkan taruhan arah yang agresif. Sikap defensif ini menunjukkan bahwa pasar menunggu katalis yang lebih jelas sebelum menginvestasikan modal baru—baik itu berupa arus masuk institusional yang diperbarui, data inflasi yang melonggar, sinyal yang lebih jelas tentang pemotongan suku bunga di masa depan, atau de-eskalasi ketegangan geopolitik. Untuk saat ini, harga crypto tetap terkunci dalam kisaran terbatas, dengan Bitcoin mempertahankan level support utama tetapi altcoin terus menunjukkan kelemahan relatif dan kerentanan terhadap perubahan sentimen risiko.