Pada awal tahun 2026, pasar keuangan sedang mengalami titik balik besar. Laporan “In Gold We Trust” dari perusahaan Incrementum menunjukkan bahwa pasar bullish harga emas dan perak mencerminkan bukan sekadar fluktuasi pasar komoditas, tetapi juga rekonstruksi sistem keuangan global itu sendiri. Terutama menjelang 2030, harga perak dan Bitcoin sedang berusaha meningkatkan kehadirannya secara cepat.
Di balik prediksi yang ditekankan dalam laporan tentang kemungkinan harga emas mencapai USD pada akhir 2030, terdapat kekacauan dalam tatanan keuangan dunia dan perubahan perilaku investor yang menyertainya. Dalam proses ini, harga perak mulai memiliki dua nilai: satu sebagai penyimpan nilai seperti emas, dan lainnya sebagai nilai riil yang didukung oleh permintaan industri. Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%, sementara harga perak memiliki potensi kenaikan yang lebih besar. Secara historis, dalam pasar bullish, perak cenderung menunjukkan fluktuasi lebih dari dua kali lipat dari emas, menjadikannya peluang investasi menjelang 2030.
Sistem keuangan yang direkonstruksi, peran baru untuk perak dan emas
Ekonomi dunia sedang dalam masa transisi dari sistem dolar yang berlangsung sejak 1990-an menuju sistem mata uang multipolar. Seperti yang diusulkan oleh Zoltan Pozsar, konsep “Bretton Woods III” menunjukkan bahwa aset nyata seperti emas dan perak mulai mengembalikan posisinya sebagai jangkar dalam transaksi internasional.
Dalam konteks ini, harga perak mulai memiliki dua fungsi: sebagai penyimpan nilai seperti emas dan sebagai nilai riil yang didukung oleh permintaan industri. Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%, tetapi harga perak memiliki potensi kenaikan yang lebih besar. Secara historis, selama masa stagflasi di tahun 1970-an, pertumbuhan majemuk tahunan riil perak mencapai 33%, dan dalam kondisi stagflasi saat ini, performa yang setara atau lebih baik dapat diharapkan.
Strategi investasi menjelang 2030 menunjukkan bahwa kenaikan harga perak kemungkinan akan lebih cepat daripada emas. Hal ini didukung oleh meningkatnya permintaan industri (seperti tenaga surya dan perangkat medis), yang menjadikan perak bukan hanya sebagai aset penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dengan permintaan riil.
Strategi alokasi aset baru: potensi perak dan performa emas
Distribusi portofolio tradisional “60/40” (saham 60%, obligasi 40%) sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi investasi modern. Incrementum mengusulkan alokasi baru sebagai berikut:
Saham: 45%
Obligasi: 15%
Emas sebagai aset aman: 15%
Performa emas (perak, saham pertambangan, komoditas): 10%
Komoditas: 10%
Bitcoin: 5%
Perubahan alokasi ini penting karena secara eksplisit memasukkan perak dan aset performa emas lainnya. Harga perak diharapkan berperan sebagai “pelari” yang mendukung emas dalam pasar bullish saat ini, dan berpotensi menjadi pemain kunci dalam pergerakan kenaikan berikutnya.
Dalam periode hingga 2030, berinvestasi di perak dapat memberikan pengembalian yang lebih tinggi dari sekadar memegang emas. Hal ini karena permintaan industri yang terus berkembang, menjadikan perak bukan hanya sebagai aset penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dengan permintaan riil yang kuat.
Dukungan makroekonomi terhadap bullishnya perak dan emas
Kebijakan pemerintahan Trump yang diumumkan pada 2025 telah secara dramatis mengubah lingkungan permintaan untuk perak dan emas. Defisit fiskal AS yang besar, kebijakan dolar yang melemah, dan kebijakan proteksionis baru semuanya mendorong tekanan inflasi dan melemahkan dolar.
Beban bunga utang pemerintah AS sudah melebihi 1 triliun USD per tahun, bahkan melampaui anggaran pertahanan. Tekanan untuk melemahkan dolar ini akan mempercepat permintaan terhadap aset yang tidak bergantung pada kepercayaan negara, seperti emas dan perak.
Di Eropa, termasuk Jerman, perubahan kebijakan fiskal sedang berlangsung. Peningkatan pengeluaran pertahanan dan program pembiayaan utang besar sebesar 5.000 miliar euro akan memperkuat tekanan inflasi dan ketidakpastian mata uang di zona euro.
Lingkungan inflasi global ini menjadi pendukung terkuat kenaikan harga perak menjelang 2030.
Faktor risiko potensial dan skenario penyesuaian
Meskipun tren kenaikan jangka menengah dan panjang sudah terbentuk, risiko koreksi jangka pendek tidak bisa diabaikan. Risiko utama yang disebutkan dalam laporan meliputi:
Perubahan mendadak dalam permintaan dari bank sentral: kemungkinan penurunan pembelian kuartalan saat ini sekitar 250 ton secara tak terduga
Penurunan premi geopolitik: penyelesaian tak terduga konflik di Ukraina, Timur Tengah, dan perang dagang AS-Cina
Ketahanan ekonomi AS: jika ekonomi tetap kuat, Federal Reserve mungkin akan mengencangkan suku bunga
Rebound nilai dolar: dari kondisi oversold saat ini
Secara jangka pendek, harga emas bisa turun ke sekitar @E5@ USD, tetapi ini adalah bagian dari proses koreksi dalam pasar bullish dan tidak akan mengancam tren kenaikan jangka panjang menuju 2030.
Komplementaritas antara perak, emas, dan Bitcoin
Menariknya, kenaikan perak dan Bitcoin diperkirakan akan berjalan bersamaan. Diperkirakan, Bitcoin akan mencapai sekitar USD pada akhir 2030, setara dengan 50% dari kapitalisasi pasar emas, yaitu sekitar 900.000 USD.
Sementara emas menawarkan “stabilitas defensif”, perak menawarkan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi, dan Bitcoin menyediakan independensi geopolitik. Kombinasi aset ini, dengan moto “Emas untuk stabilitas, Bitcoin untuk konveksitas”, akan menjadi fondasi portofolio aset di era berikutnya.
Kesimpulan: Menuju era harga perak dan rekonstruksi keuangan
Lingkungan investasi menjelang 2030 tidak hanya sekadar fluktuasi pasar komoditas, tetapi juga terkait erat dengan rekonstruksi tatanan keuangan global. Harga perak akan berperan sebagai “pengubah permainan” sejati dalam proses emas kembali ke posisi utama dari pinggiran ke arus utama.
Emas akan kembali berfungsi sebagai “penstabil portofolio”, sementara perak akan berfungsi sebagai “sumber pertumbuhan agresif”. Dalam periode hingga 2030, saat kepercayaan terhadap aset aman tradisional (obligasi pemerintah) menurun, emas dan perak akan memulihkan posisinya sebagai “aset pembayaran supranasional” yang langka.
Dalam kondisi keuangan saat ini, kenaikan harga perak dan persiapan investasi menjelang 2030 merupakan langkah yang wajar dan tak terelakkan, didukung oleh ketidakpastian politik dan ekonomi.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kenaikan harga perak menuju tahun 2030—Strategi investasi di era reorganisasi keuangan yang membayangkan masa depan
Pada awal tahun 2026, pasar keuangan sedang mengalami titik balik besar. Laporan “In Gold We Trust” dari perusahaan Incrementum menunjukkan bahwa pasar bullish harga emas dan perak mencerminkan bukan sekadar fluktuasi pasar komoditas, tetapi juga rekonstruksi sistem keuangan global itu sendiri. Terutama menjelang 2030, harga perak dan Bitcoin sedang berusaha meningkatkan kehadirannya secara cepat.
Di balik prediksi yang ditekankan dalam laporan tentang kemungkinan harga emas mencapai USD pada akhir 2030, terdapat kekacauan dalam tatanan keuangan dunia dan perubahan perilaku investor yang menyertainya. Dalam proses ini, harga perak mulai memiliki dua nilai: satu sebagai penyimpan nilai seperti emas, dan lainnya sebagai nilai riil yang didukung oleh permintaan industri. Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%, sementara harga perak memiliki potensi kenaikan yang lebih besar. Secara historis, dalam pasar bullish, perak cenderung menunjukkan fluktuasi lebih dari dua kali lipat dari emas, menjadikannya peluang investasi menjelang 2030.
Sistem keuangan yang direkonstruksi, peran baru untuk perak dan emas
Ekonomi dunia sedang dalam masa transisi dari sistem dolar yang berlangsung sejak 1990-an menuju sistem mata uang multipolar. Seperti yang diusulkan oleh Zoltan Pozsar, konsep “Bretton Woods III” menunjukkan bahwa aset nyata seperti emas dan perak mulai mengembalikan posisinya sebagai jangkar dalam transaksi internasional.
Dalam konteks ini, harga perak mulai memiliki dua fungsi: sebagai penyimpan nilai seperti emas dan sebagai nilai riil yang didukung oleh permintaan industri. Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%, tetapi harga perak memiliki potensi kenaikan yang lebih besar. Secara historis, selama masa stagflasi di tahun 1970-an, pertumbuhan majemuk tahunan riil perak mencapai 33%, dan dalam kondisi stagflasi saat ini, performa yang setara atau lebih baik dapat diharapkan.
Strategi investasi menjelang 2030 menunjukkan bahwa kenaikan harga perak kemungkinan akan lebih cepat daripada emas. Hal ini didukung oleh meningkatnya permintaan industri (seperti tenaga surya dan perangkat medis), yang menjadikan perak bukan hanya sebagai aset penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dengan permintaan riil.
Strategi alokasi aset baru: potensi perak dan performa emas
Distribusi portofolio tradisional “60/40” (saham 60%, obligasi 40%) sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi investasi modern. Incrementum mengusulkan alokasi baru sebagai berikut:
Perubahan alokasi ini penting karena secara eksplisit memasukkan perak dan aset performa emas lainnya. Harga perak diharapkan berperan sebagai “pelari” yang mendukung emas dalam pasar bullish saat ini, dan berpotensi menjadi pemain kunci dalam pergerakan kenaikan berikutnya.
Dalam periode hingga 2030, berinvestasi di perak dapat memberikan pengembalian yang lebih tinggi dari sekadar memegang emas. Hal ini karena permintaan industri yang terus berkembang, menjadikan perak bukan hanya sebagai aset penyimpan nilai, tetapi juga sebagai aset dengan permintaan riil yang kuat.
Dukungan makroekonomi terhadap bullishnya perak dan emas
Kebijakan pemerintahan Trump yang diumumkan pada 2025 telah secara dramatis mengubah lingkungan permintaan untuk perak dan emas. Defisit fiskal AS yang besar, kebijakan dolar yang melemah, dan kebijakan proteksionis baru semuanya mendorong tekanan inflasi dan melemahkan dolar.
Beban bunga utang pemerintah AS sudah melebihi 1 triliun USD per tahun, bahkan melampaui anggaran pertahanan. Tekanan untuk melemahkan dolar ini akan mempercepat permintaan terhadap aset yang tidak bergantung pada kepercayaan negara, seperti emas dan perak.
Di Eropa, termasuk Jerman, perubahan kebijakan fiskal sedang berlangsung. Peningkatan pengeluaran pertahanan dan program pembiayaan utang besar sebesar 5.000 miliar euro akan memperkuat tekanan inflasi dan ketidakpastian mata uang di zona euro.
Lingkungan inflasi global ini menjadi pendukung terkuat kenaikan harga perak menjelang 2030.
Faktor risiko potensial dan skenario penyesuaian
Meskipun tren kenaikan jangka menengah dan panjang sudah terbentuk, risiko koreksi jangka pendek tidak bisa diabaikan. Risiko utama yang disebutkan dalam laporan meliputi:
Secara jangka pendek, harga emas bisa turun ke sekitar @E5@ USD, tetapi ini adalah bagian dari proses koreksi dalam pasar bullish dan tidak akan mengancam tren kenaikan jangka panjang menuju 2030.
Komplementaritas antara perak, emas, dan Bitcoin
Menariknya, kenaikan perak dan Bitcoin diperkirakan akan berjalan bersamaan. Diperkirakan, Bitcoin akan mencapai sekitar USD pada akhir 2030, setara dengan 50% dari kapitalisasi pasar emas, yaitu sekitar 900.000 USD.
Sementara emas menawarkan “stabilitas defensif”, perak menawarkan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi, dan Bitcoin menyediakan independensi geopolitik. Kombinasi aset ini, dengan moto “Emas untuk stabilitas, Bitcoin untuk konveksitas”, akan menjadi fondasi portofolio aset di era berikutnya.
Kesimpulan: Menuju era harga perak dan rekonstruksi keuangan
Lingkungan investasi menjelang 2030 tidak hanya sekadar fluktuasi pasar komoditas, tetapi juga terkait erat dengan rekonstruksi tatanan keuangan global. Harga perak akan berperan sebagai “pengubah permainan” sejati dalam proses emas kembali ke posisi utama dari pinggiran ke arus utama.
Emas akan kembali berfungsi sebagai “penstabil portofolio”, sementara perak akan berfungsi sebagai “sumber pertumbuhan agresif”. Dalam periode hingga 2030, saat kepercayaan terhadap aset aman tradisional (obligasi pemerintah) menurun, emas dan perak akan memulihkan posisinya sebagai “aset pembayaran supranasional” yang langka.
Dalam kondisi keuangan saat ini, kenaikan harga perak dan persiapan investasi menjelang 2030 merupakan langkah yang wajar dan tak terelakkan, didukung oleh ketidakpastian politik dan ekonomi.