Mengapa begitu banyak orang membuka posisi tanpa pernah menetapkan stop loss?
Sebenarnya bukan karena mereka tidak memahami betapa pentingnya stop loss. Masalahnya adalah, saat saat yang benar-benar membutuhkan untuk menutup posisi sesuai harga stop loss tiba, secara psikologis sulit untuk menerima kerugian tersebut.
Kerugian tidak hanya berarti saldo akun berkurang sedikit—lebih dari itu, ini memaksa Anda untuk mengakui bahwa penilaian Anda salah. Pada saat itu, reaksi alami manusia adalah menghindar: bertahan sebentar lagi, lihat apakah bisa rebound. Pikiran seperti ini seringkali lebih meyakinkan daripada analisis teknikal apa pun.
Jika pertahanan psikologis tidak dipertimbangkan sebelum melakukan order, ketika pasar mulai berbalik melawan ekspektasi, mengeksekusi stop loss akan menjadi keputusan yang paling menyiksa.
Ingin memutus lingkaran setan ini? Caranya sebenarnya cukup sederhana: hitung dulu berapa kerugian yang bisa Anda tanggung, lalu balikkan angka itu untuk menentukan ukuran posisi, baru kemudian buka posisi. Dengan cara ini, stop loss berubah dari keputusan emosional menjadi pelaksanaan teknikal murni.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
20 Suka
Hadiah
20
7
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
HashBard
· 01-12 00:23
alur naratif di sini berbeda... ini bukan tentang matematikanya, ini tentang menyaksikan diri sendiri kehilangan argumen dengan ego sendiri secara langsung. itu adalah likuidasi nyata yang tidak dibicarakan orang.
Lihat AsliBalas0
LiquidationWatcher
· 01-11 19:36
nah fr bagian psikologis terasa berbeda... pernah mengalami, kehilangan itu. menonton lilin merah dan berharap keajaiban adalah cara kamu akhirnya menyaksikan faktor kesehatanmu turun 💀
Lihat AsliBalas0
airdrop_huntress
· 01-11 09:53
Benar sekali, ujian mental memang yang paling sulit. Tidak mengakui kesalahan jauh lebih menyakitkan daripada mengalami margin call.
Lihat AsliBalas0
OnlyUpOnly
· 01-09 00:54
Ini adalah psikologi penjudi, sangat benar sekali
Lihat AsliBalas0
MissedAirdropBro
· 01-09 00:45
Benar sekali, jika mental tidak kuat, tidak peduli berapa banyak analisis teknikal pun sia-sia
Lihat AsliBalas0
RunWithRugs
· 01-09 00:41
Sejujurnya, ini adalah mental penjudi, tidak ada yang lain
Meski sudah menetapkan batas kerugian, tetap saja tidak tega menekan saat benar-benar rugi
Lihat AsliBalas0
MonkeySeeMonkeyDo
· 01-09 00:32
Berkata keras sekali ya, ini adalah pelajaran pahit yang saya alami
Manusia adalah makhluk yang suka menipu diri sendiri, terutama saat akun menunjukkan kerugian
Rebound? Rebound apa, sudah jatuh ke dasar banget nih
Mengapa begitu banyak orang membuka posisi tanpa pernah menetapkan stop loss?
Sebenarnya bukan karena mereka tidak memahami betapa pentingnya stop loss. Masalahnya adalah, saat saat yang benar-benar membutuhkan untuk menutup posisi sesuai harga stop loss tiba, secara psikologis sulit untuk menerima kerugian tersebut.
Kerugian tidak hanya berarti saldo akun berkurang sedikit—lebih dari itu, ini memaksa Anda untuk mengakui bahwa penilaian Anda salah. Pada saat itu, reaksi alami manusia adalah menghindar: bertahan sebentar lagi, lihat apakah bisa rebound. Pikiran seperti ini seringkali lebih meyakinkan daripada analisis teknikal apa pun.
Jika pertahanan psikologis tidak dipertimbangkan sebelum melakukan order, ketika pasar mulai berbalik melawan ekspektasi, mengeksekusi stop loss akan menjadi keputusan yang paling menyiksa.
Ingin memutus lingkaran setan ini? Caranya sebenarnya cukup sederhana: hitung dulu berapa kerugian yang bisa Anda tanggung, lalu balikkan angka itu untuk menentukan ukuran posisi, baru kemudian buka posisi. Dengan cara ini, stop loss berubah dari keputusan emosional menjadi pelaksanaan teknikal murni.