Dalam masyarakat Thailand kontemporer, ketika membicarakan panduan untuk menjalani kehidupan yang stabil, guru besar yang telah memandu rakyat Thailand selama puluhan tahun adalah filosofi Ekonomi Cukupan. Konsep pemikiran ini berasal dari kondisi nyata Thailand dan wilayah sekitarnya, untuk menciptakan jalan keluar agar masyarakat dapat bertahan dan maju dengan kemampuan mereka sendiri.
Asal Mula Pembentukan Prinsip Ini
Pertama kali konsep Ekonomi Cukupan secara resmi diusulkan kepada publik adalah tahun 2517 ketika Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) memberikan pidato kepada siswa di Institut Pertanian, di mana dalam inti pidato tersebut, Beliau mengamati bahwa “memiliki cukup, makan cukup, menggunakan cukup” harus menjadi fondasi pembangunan negara.
Alasan mengapa perlu untuk mempromosikan konsep ini adalah karena pada periode tersebut, Thailand memiliki perencanaan ekonomi yang berfokus pada investasi infrastruktur untuk mengubah negara menjadi masyarakat industri, tetapi masalahnya adalah mayoritas dana investasi berasal dari pinjaman luar negeri, yang harus dilunasi melalui ekspor produk pertanian.
Hasilnya adalah ekonomi berkembang pesat tetapi berdampak berat pada lingkungan, kawasan hutan diinvasi untuk meningkatkan produksi, dan ketimpangan pendapatan meningkat bersamaan.
Pada tahun 2539, sebelum krisis keuangan Asia terjadi, Raja memberikan peringatan lagi dengan mengatakan “hal penting bukanlah menjadi harimau, tetapi harus memiliki sistem ekonomi yang cukup makan, yang berarti mampu menghidupi diri sendiri… Kecukupan tidak berarti setiap keluarga harus memproduksi makanan mereka sendiri, tetapi di desa atau kabupaten lain harus ada kecukupan, beberapa hal jika diproduksi terlalu banyak dapat dijual, tetapi dijual dalam jarak dekat, agar tidak membuang biaya transportasi yang banyak”.
Struktur Utama Filosofi Ekonomi Cukupan
Inti dari konsep Ekonomi Cukupan berasal dari menjalani kehidupan di jalan tengah, yang dibangun atas 3 cincin dan 2 kondisi, adalah salah satu struktur filosofi.
3 Cincin Menjalani Kehidupan
Cincin Pertama: Kecukupan
Ini berarti menjalani hidup dalam keseimbangan, baik dalam mencari pendapatan maupun pengeluaran. Menciptakan pendapatan harus memegang teguh etika, jangan menghindari atau menindas siapa pun. Adapun pengeluaran harus sesuai dengan status diri sendiri, jangan membuat diri sendiri berhutang ke mana-mana.
Cincin Kedua: Memiliki Alasan
Ketika akan melakukan sesuatu, harus dipikirkan dengan baik terlebih dahulu, menganalisis kelayakan dengan diri sendiri, menganalisis kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan bersiap menghadapi bahaya yang mungkin terjadi. Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi atau tanpa pengetahuan.
Cincin Ketiga: Memiliki Perlindungan
Ini adalah kesiapan untuk beradaptasi dengan perubahan, kemampuan untuk menyesuaikan dan memvariasikan metode operasi agar sesuai dengan situasi yang berubah-ubah.
2 Kondisi yang Harus Dipegangkan
Kondisi Pertama: Pengetahuan
Pengetahuan berasal dari pendidikan, pengalaman sendiri, dan dari ahli. Ketika memiliki pengetahuan yang cukup, dapat digunakan dalam merencanakan dan menyelesaikan masalah secara efektif, yang seolah-olah membangun berbagai sistem perlindungan bagi diri sendiri.
Kondisi Kedua: Etika
Tindakan apa pun harus sesuai dengan prinsip kebenaran dan keadilan, memiliki kerja keras dan ketekunan, jujur terhadap tanggung jawab sendiri, murah hati terhadap sesama manusia.
Ekonomi Cukupan dalam Praktik: Sistem Pertanian
Contoh paling jelas dari penerapan filosofi Ekonomi Cukupan adalah di bidang pertanian, terutama karena Thailand adalah negara di mana mayoritas penduduk bekerja di bidang pertanian.
Pertanian Terpadu
Alih-alih melakukan pertanian tunggal (seperti hanya menanam padi), pertanian terpadu adalah melakukan berbagai jenis secara bersamaan di satu rumah tangga, untuk mengatasi berbagai masalah seperti kekeringan, penyakit, dan kehilangan stabilitas pendapatan.
Praktik nyata seperti menanam padi di sawah, menanam sayuran di kebun, menggali kolam budidaya ikan, untuk mendapatkan makanan yang beragam dan dapat dijual untuk mendapatkan pendapatan juga.
Pertanian Teori Baru
Panduan baru ini telah dirancang untuk memecahkan masalah spesifik, seperti kekurangan air atau lahan terbatas, dengan membagi tanah menjadi bagian-bagian dengan menerapkan prinsip ilmiah dalam manajemen.
Tingkat Dasar: Membagi tanah menjadi 4 bagian dengan rasio 30:30:30:10 untuk menanam padi, menggali kolam penyimpanan air, memelihara hewan, dan menanam sayuran kebun.
Tingkat Lanjut: Banyak petani bekerja sama, membentuk kelompok, menciptakan pasar, yang membantu mereka memiliki kekuatan tawar dengan pedagang perantara, tidak ditekan harganya.
Tingkat Tertinggi: Pembentukan koperasi, pusat pinjaman agar masyarakat dapat berinvestasi, dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam komunitas.
Penerapan dalam Bisnis dan Industri
Filosofi Ekonomi Cukupan tidak terbatas hanya pada pertanian saja. Dapat diterapkan di sektor bisnis juga.
Pemilik bisnis harus memegang prinsip 3 cincin, terutama tentang kecukupan dalam keuntungan, jangan rakus berlebihan hingga menciptakan risiko bagi bisnis sendiri.
Dalam hal memiliki alasan, harus ada perencanaan dengan standar penyelidikan yang ketat, menganalisis kekuatan dan kelemahan, dilengkapi dengan rencana darurat untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi.
Di sisi memiliki sistem perlindungan, bisnis harus dapat beradaptasi ketika ada perubahan di pasar atau persaingan.
Selain itu, perilaku harus memegang prinsip kejujuran, jangan merugikan konsumen, karyawan, atau mitra dagang. Sebaiknya menggunakan bahan baku lokal dan dapat melayani pasar lokal sebagai prioritas utama.
Cara Menerapkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagi individu dan keluarga, menerapkan prinsip Ekonomi Cukupan dapat dimulai dari langkah-langkah berikut:
Belajar dan Berkembang: Terus belajar dan melatih keterampilan dalam hal yang dilakukan.
Kerja Keras: Memiliki perhatian dan niat terhadap pekerjaan yang dipilih.
Kejujuran: Menjalankan profesi dengan prinsip kebenaran, jangan menghindari atau berbohong.
Keseimbangan Hidup: Jangan biarkan pekerjaan menekan diri sendiri terlalu banyak, memiliki istirahat yang cukup.
Menabung: Belajar menabung dan merencanakan keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Menggunakan Uang dengan Bijak: Berbelanja sesuai kelayakan, jangan boros dan jangan terlalu pelit.
Pengambilan Keputusan yang Tepat: Sebelum melakukan sesuatu, harus mencari informasi, merencanakan, dan mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi.
Penerimaan Tingkat Internasional
Pada tahun 2549, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui pentingnya filosofi Ekonomi Cukupan dan memuji Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) sebagai “Developmental King” sambil memberikan penghargaan pencapaian tertinggi dalam pembangunan manusia kepada Beliau.
Banyak akademisi berpandangan bahwa filosofi Ekonomi Cukupan dapat sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan target pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menekankan upaya memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang.
Kesimpulan
Melalui pembelajaran dan pemahaman tentang Ekonomi Cukupan, dapat dilihat bahwa konsep ini lebih dari sekadar saran, tetapi filosofi yang dapat diterapkan di semua sektor masyarakat, baik itu tingkat individu, keluarga, komunitas, atau bahkan tingkat negara.
Dari pertanian tradisional hingga bisnis modern, kemungkinan menerapkan filosofi ini tidak memiliki batasan, selama memegang jalan tengah, mengelola dalam pikiran jernih, dan membangun pertahanan bagi diri sendiri.
Oleh karena itu, memahami dan melaksanakan prinsip Ekonomi Cukupan menjadi alat penting dalam menciptakan stabilitas dan keberlanjutan di Thailand kita.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Gagasan Ekonomi Berkelanjutan: Filosofi Kehidupan Berkelanjutan Orang Thailand
Dalam masyarakat Thailand kontemporer, ketika membicarakan panduan untuk menjalani kehidupan yang stabil, guru besar yang telah memandu rakyat Thailand selama puluhan tahun adalah filosofi Ekonomi Cukupan. Konsep pemikiran ini berasal dari kondisi nyata Thailand dan wilayah sekitarnya, untuk menciptakan jalan keluar agar masyarakat dapat bertahan dan maju dengan kemampuan mereka sendiri.
Asal Mula Pembentukan Prinsip Ini
Pertama kali konsep Ekonomi Cukupan secara resmi diusulkan kepada publik adalah tahun 2517 ketika Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) memberikan pidato kepada siswa di Institut Pertanian, di mana dalam inti pidato tersebut, Beliau mengamati bahwa “memiliki cukup, makan cukup, menggunakan cukup” harus menjadi fondasi pembangunan negara.
Alasan mengapa perlu untuk mempromosikan konsep ini adalah karena pada periode tersebut, Thailand memiliki perencanaan ekonomi yang berfokus pada investasi infrastruktur untuk mengubah negara menjadi masyarakat industri, tetapi masalahnya adalah mayoritas dana investasi berasal dari pinjaman luar negeri, yang harus dilunasi melalui ekspor produk pertanian.
Hasilnya adalah ekonomi berkembang pesat tetapi berdampak berat pada lingkungan, kawasan hutan diinvasi untuk meningkatkan produksi, dan ketimpangan pendapatan meningkat bersamaan.
Pada tahun 2539, sebelum krisis keuangan Asia terjadi, Raja memberikan peringatan lagi dengan mengatakan “hal penting bukanlah menjadi harimau, tetapi harus memiliki sistem ekonomi yang cukup makan, yang berarti mampu menghidupi diri sendiri… Kecukupan tidak berarti setiap keluarga harus memproduksi makanan mereka sendiri, tetapi di desa atau kabupaten lain harus ada kecukupan, beberapa hal jika diproduksi terlalu banyak dapat dijual, tetapi dijual dalam jarak dekat, agar tidak membuang biaya transportasi yang banyak”.
Struktur Utama Filosofi Ekonomi Cukupan
Inti dari konsep Ekonomi Cukupan berasal dari menjalani kehidupan di jalan tengah, yang dibangun atas 3 cincin dan 2 kondisi, adalah salah satu struktur filosofi.
3 Cincin Menjalani Kehidupan
Cincin Pertama: Kecukupan
Ini berarti menjalani hidup dalam keseimbangan, baik dalam mencari pendapatan maupun pengeluaran. Menciptakan pendapatan harus memegang teguh etika, jangan menghindari atau menindas siapa pun. Adapun pengeluaran harus sesuai dengan status diri sendiri, jangan membuat diri sendiri berhutang ke mana-mana.
Cincin Kedua: Memiliki Alasan
Ketika akan melakukan sesuatu, harus dipikirkan dengan baik terlebih dahulu, menganalisis kelayakan dengan diri sendiri, menganalisis kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dan bersiap menghadapi bahaya yang mungkin terjadi. Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi atau tanpa pengetahuan.
Cincin Ketiga: Memiliki Perlindungan
Ini adalah kesiapan untuk beradaptasi dengan perubahan, kemampuan untuk menyesuaikan dan memvariasikan metode operasi agar sesuai dengan situasi yang berubah-ubah.
2 Kondisi yang Harus Dipegangkan
Kondisi Pertama: Pengetahuan
Pengetahuan berasal dari pendidikan, pengalaman sendiri, dan dari ahli. Ketika memiliki pengetahuan yang cukup, dapat digunakan dalam merencanakan dan menyelesaikan masalah secara efektif, yang seolah-olah membangun berbagai sistem perlindungan bagi diri sendiri.
Kondisi Kedua: Etika
Tindakan apa pun harus sesuai dengan prinsip kebenaran dan keadilan, memiliki kerja keras dan ketekunan, jujur terhadap tanggung jawab sendiri, murah hati terhadap sesama manusia.
Ekonomi Cukupan dalam Praktik: Sistem Pertanian
Contoh paling jelas dari penerapan filosofi Ekonomi Cukupan adalah di bidang pertanian, terutama karena Thailand adalah negara di mana mayoritas penduduk bekerja di bidang pertanian.
Pertanian Terpadu
Alih-alih melakukan pertanian tunggal (seperti hanya menanam padi), pertanian terpadu adalah melakukan berbagai jenis secara bersamaan di satu rumah tangga, untuk mengatasi berbagai masalah seperti kekeringan, penyakit, dan kehilangan stabilitas pendapatan.
Praktik nyata seperti menanam padi di sawah, menanam sayuran di kebun, menggali kolam budidaya ikan, untuk mendapatkan makanan yang beragam dan dapat dijual untuk mendapatkan pendapatan juga.
Pertanian Teori Baru
Panduan baru ini telah dirancang untuk memecahkan masalah spesifik, seperti kekurangan air atau lahan terbatas, dengan membagi tanah menjadi bagian-bagian dengan menerapkan prinsip ilmiah dalam manajemen.
Tingkat Dasar: Membagi tanah menjadi 4 bagian dengan rasio 30:30:30:10 untuk menanam padi, menggali kolam penyimpanan air, memelihara hewan, dan menanam sayuran kebun.
Tingkat Lanjut: Banyak petani bekerja sama, membentuk kelompok, menciptakan pasar, yang membantu mereka memiliki kekuatan tawar dengan pedagang perantara, tidak ditekan harganya.
Tingkat Tertinggi: Pembentukan koperasi, pusat pinjaman agar masyarakat dapat berinvestasi, dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam komunitas.
Penerapan dalam Bisnis dan Industri
Filosofi Ekonomi Cukupan tidak terbatas hanya pada pertanian saja. Dapat diterapkan di sektor bisnis juga.
Pemilik bisnis harus memegang prinsip 3 cincin, terutama tentang kecukupan dalam keuntungan, jangan rakus berlebihan hingga menciptakan risiko bagi bisnis sendiri.
Dalam hal memiliki alasan, harus ada perencanaan dengan standar penyelidikan yang ketat, menganalisis kekuatan dan kelemahan, dilengkapi dengan rencana darurat untuk menghadapi situasi yang mungkin terjadi.
Di sisi memiliki sistem perlindungan, bisnis harus dapat beradaptasi ketika ada perubahan di pasar atau persaingan.
Selain itu, perilaku harus memegang prinsip kejujuran, jangan merugikan konsumen, karyawan, atau mitra dagang. Sebaiknya menggunakan bahan baku lokal dan dapat melayani pasar lokal sebagai prioritas utama.
Cara Menerapkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bagi individu dan keluarga, menerapkan prinsip Ekonomi Cukupan dapat dimulai dari langkah-langkah berikut:
Belajar dan Berkembang: Terus belajar dan melatih keterampilan dalam hal yang dilakukan.
Kerja Keras: Memiliki perhatian dan niat terhadap pekerjaan yang dipilih.
Kejujuran: Menjalankan profesi dengan prinsip kebenaran, jangan menghindari atau berbohong.
Keseimbangan Hidup: Jangan biarkan pekerjaan menekan diri sendiri terlalu banyak, memiliki istirahat yang cukup.
Menabung: Belajar menabung dan merencanakan keuangan, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Menggunakan Uang dengan Bijak: Berbelanja sesuai kelayakan, jangan boros dan jangan terlalu pelit.
Pengambilan Keputusan yang Tepat: Sebelum melakukan sesuatu, harus mencari informasi, merencanakan, dan mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi.
Penerimaan Tingkat Internasional
Pada tahun 2549, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengakui pentingnya filosofi Ekonomi Cukupan dan memuji Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX) sebagai “Developmental King” sambil memberikan penghargaan pencapaian tertinggi dalam pembangunan manusia kepada Beliau.
Banyak akademisi berpandangan bahwa filosofi Ekonomi Cukupan dapat sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang merupakan target pengembangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang menekankan upaya memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengorbankan kebutuhan generasi mendatang.
Kesimpulan
Melalui pembelajaran dan pemahaman tentang Ekonomi Cukupan, dapat dilihat bahwa konsep ini lebih dari sekadar saran, tetapi filosofi yang dapat diterapkan di semua sektor masyarakat, baik itu tingkat individu, keluarga, komunitas, atau bahkan tingkat negara.
Dari pertanian tradisional hingga bisnis modern, kemungkinan menerapkan filosofi ini tidak memiliki batasan, selama memegang jalan tengah, mengelola dalam pikiran jernih, dan membangun pertahanan bagi diri sendiri.
Oleh karena itu, memahami dan melaksanakan prinsip Ekonomi Cukupan menjadi alat penting dalam menciptakan stabilitas dan keberlanjutan di Thailand kita.