Tahun ini, kinerja pasar saham global menunjukkan performa yang cerah, di mana indeks MSCI Asia Pasifik (tanpa Jepang) hingga saat ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 26%, mencatatkan kinerja tahunan terkuat sejak 2017. Kenaikan ini didukung oleh bangkitnya aset safe haven yang menjadi pendorong utama. Emas spot pertama kali menembus USD 4.500 per ons, sementara perak melonjak ke atas USD 72, keduanya mencatat rekor sejarah baru. Pasar saham Asia, terutama indeks Nikkei dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing melonjak 26% dan 72%, merupakan cerminan langsung dari gelombang safe haven ini di kawasan.
Mengapa Emas dan Perak Bersamaan Mencapai Rekor Baru?
Kenaikan perak sangat mencolok, dengan kenaikan kumulatif hampir 150% tahun ini, berpotensi mencatatkan rekor kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah, sementara emas juga naik lebih dari 70%. Faktor-faktor yang mendorong kenaikan harga logam mulia ini cukup kompleks:
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat menjadi pendorong utama, konflik Ukraina-Rusia yang berkepanjangan, ketegangan hubungan AS dan Venezuela, semuanya memperkuat permintaan safe haven dari investor global. Selain itu, bank sentral di berbagai negara secara aktif menambah cadangan emas, memberikan dukungan stabil bagi harga emas, dan tren ini telah menjadi faktor struktural jangka panjang yang positif.
Ekspektasi perubahan kebijakan Federal Reserve juga tidak boleh diabaikan. Tren pasar tenaga kerja AS yang melambat, serta prediksi pasar bahwa Fed akan memulai siklus penurunan suku bunga pada 2025, memberikan sentimen positif terhadap aset non-Dolar, terutama emas yang dihitung dalam dolar.
Perlu dicatat bahwa permintaan industri terhadap perak sangat kuat, memberikan perak keunggulan unik dalam kenaikan harga. Selain sifat safe haven tradisional, permintaan dari bidang chip AI, panel surya, dan industri energi hijau terus meningkat. Pasar global telah menghadapi kekurangan pasokan selama lima tahun berturut-turut, menjadikan perak sebagai aset yang tidak hanya melindungi nilai tetapi juga berpotensi tumbuh.
Raksasa Keuangan Internasional Bersikap Optimis, Target Harga Menuju Angka 5 Digit
Beberapa institusi keuangan top dunia baru-baru ini menaikkan target harga emas, dengan optimisme bahwa harga emas tahun depan berpeluang menembus USD 5.000:
Goldman Sachs memperkirakan harga emas mencapai USD 4.900 pada 2025
J.P. Morgan menetapkan target di USD 5.055, bahkan lebih berani memperkirakan bisa menembus USD 5.400 pada 2027
Deutsche Bank, UBS, dan Crédit Agricole secara bersamaan optimis emas akan menembus USD 5.000
Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, dan manajer hedge fund terkenal, Ken Griffin, baru-baru ini menyatakan bahwa, dalam kondisi geopolitik dan kebijakan moneter saat ini, keamanan nilai emas mungkin lebih unggul dibandingkan aset dolar. Kedua tokoh industri ini menyarankan agar investor menambahkan porsi emas yang cukup dalam portofolio untuk memperkuat ketahanan investasi.
Peluang Baru Investor Taiwan: ETF Logam Mulia Menjadi Fokus Akhir Tahun
Kondisi pasar logam mulia internasional juga mempengaruhi pasar Taiwan. Produk ETF terkait menjadi fokus utama investor, termasuk:
Futures Yuan Ta S&P Gold (00635U)
Futures Yuan Ta Daqiao Perak (00738U)
Seiring harga emas dan perak mencapai rekor tertinggi, kedua ETF ini juga mencatatkan harga tertinggi baru, dengan peningkatan skala dan jumlah investor secara signifikan, mencerminkan meningkatnya permintaan lokal terhadap aset logam mulia.
Analisis dari lembaga keuangan menunjukkan bahwa saat ini, alokasi aset investor saham Taiwan masih terlalu berat di saham, sementara porsi emas dan perak relatif rendah. Dengan potensi depresiasi dolar jangka panjang, siklus penurunan suku bunga yang akan segera dimulai, dan risiko geopolitik yang tetap menggelayut, fungsi safe haven emas berpotensi melampaui aset obligasi tradisional.
Strategi Alokasi Cerdas: Tiga Langkah Ikut Serta dalam Pasar Logam Mulia
Agar dapat memanfaatkan tren ini secara optimal, investor disarankan mempertimbangkan strategi berikut:
Rutin menabung dalam ETF emas: Dengan melakukan diversifikasi waktu masuk, risiko fluktuasi harga jangka pendek dapat diminimalkan, sehingga dapat mengikuti tren kenaikan jangka panjang.
Alokasi satu kali secara seimbang: Menambahkan sekitar 5–10% aset terkait emas dalam portofolio yang sudah ada dapat membantu melawan volatilitas pasar dan meningkatkan stabilitas portofolio.
Pantau permintaan industri terhadap perak: Perak memiliki sifat safe haven dan permintaan industri yang terus berkembang, terutama di bidang chip AI dan energi surya, sehingga potensi pengembangannya tidak boleh diabaikan.
Kesimpulan: Emas Menjadi Pilihan Inti dalam Alokasi Aset 2026
Dalam situasi ekonomi dan politik global yang penuh ketidakpastian, emas telah berkembang dari sekadar instrumen safe haven tradisional menjadi media pelindung nilai yang disukai oleh bank sentral, institusi, dan investor ritel. Dengan terus terobosnya aspek teknikal, fundamental yang solid, dan target harga dari lembaga internasional yang terus meningkat, semua indikator mengarah pada tren kenaikan harga emas jangka panjang yang telah terbentuk.
Investor Taiwan selain terus memperhatikan peluang di pasar saham domestik, juga disarankan mengalokasikan sebagian dana ke produk terkait emas dan perak, agar dapat meraih keuntungan seiring pasar internasional sekaligus menambah lapisan perlindungan risiko dalam portofolio mereka.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pasar saham Asia-Pasifik melonjak 26%, logam mulia sebagai pemimpin kenaikan—emas menembus angka $4.500 memicu gelombang investasi
Tahun ini, kinerja pasar saham global menunjukkan performa yang cerah, di mana indeks MSCI Asia Pasifik (tanpa Jepang) hingga saat ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 26%, mencatatkan kinerja tahunan terkuat sejak 2017. Kenaikan ini didukung oleh bangkitnya aset safe haven yang menjadi pendorong utama. Emas spot pertama kali menembus USD 4.500 per ons, sementara perak melonjak ke atas USD 72, keduanya mencatat rekor sejarah baru. Pasar saham Asia, terutama indeks Nikkei dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing melonjak 26% dan 72%, merupakan cerminan langsung dari gelombang safe haven ini di kawasan.
Mengapa Emas dan Perak Bersamaan Mencapai Rekor Baru?
Kenaikan perak sangat mencolok, dengan kenaikan kumulatif hampir 150% tahun ini, berpotensi mencatatkan rekor kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah, sementara emas juga naik lebih dari 70%. Faktor-faktor yang mendorong kenaikan harga logam mulia ini cukup kompleks:
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat menjadi pendorong utama, konflik Ukraina-Rusia yang berkepanjangan, ketegangan hubungan AS dan Venezuela, semuanya memperkuat permintaan safe haven dari investor global. Selain itu, bank sentral di berbagai negara secara aktif menambah cadangan emas, memberikan dukungan stabil bagi harga emas, dan tren ini telah menjadi faktor struktural jangka panjang yang positif.
Ekspektasi perubahan kebijakan Federal Reserve juga tidak boleh diabaikan. Tren pasar tenaga kerja AS yang melambat, serta prediksi pasar bahwa Fed akan memulai siklus penurunan suku bunga pada 2025, memberikan sentimen positif terhadap aset non-Dolar, terutama emas yang dihitung dalam dolar.
Perlu dicatat bahwa permintaan industri terhadap perak sangat kuat, memberikan perak keunggulan unik dalam kenaikan harga. Selain sifat safe haven tradisional, permintaan dari bidang chip AI, panel surya, dan industri energi hijau terus meningkat. Pasar global telah menghadapi kekurangan pasokan selama lima tahun berturut-turut, menjadikan perak sebagai aset yang tidak hanya melindungi nilai tetapi juga berpotensi tumbuh.
Raksasa Keuangan Internasional Bersikap Optimis, Target Harga Menuju Angka 5 Digit
Beberapa institusi keuangan top dunia baru-baru ini menaikkan target harga emas, dengan optimisme bahwa harga emas tahun depan berpeluang menembus USD 5.000:
Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, dan manajer hedge fund terkenal, Ken Griffin, baru-baru ini menyatakan bahwa, dalam kondisi geopolitik dan kebijakan moneter saat ini, keamanan nilai emas mungkin lebih unggul dibandingkan aset dolar. Kedua tokoh industri ini menyarankan agar investor menambahkan porsi emas yang cukup dalam portofolio untuk memperkuat ketahanan investasi.
Peluang Baru Investor Taiwan: ETF Logam Mulia Menjadi Fokus Akhir Tahun
Kondisi pasar logam mulia internasional juga mempengaruhi pasar Taiwan. Produk ETF terkait menjadi fokus utama investor, termasuk:
Seiring harga emas dan perak mencapai rekor tertinggi, kedua ETF ini juga mencatatkan harga tertinggi baru, dengan peningkatan skala dan jumlah investor secara signifikan, mencerminkan meningkatnya permintaan lokal terhadap aset logam mulia.
Analisis dari lembaga keuangan menunjukkan bahwa saat ini, alokasi aset investor saham Taiwan masih terlalu berat di saham, sementara porsi emas dan perak relatif rendah. Dengan potensi depresiasi dolar jangka panjang, siklus penurunan suku bunga yang akan segera dimulai, dan risiko geopolitik yang tetap menggelayut, fungsi safe haven emas berpotensi melampaui aset obligasi tradisional.
Strategi Alokasi Cerdas: Tiga Langkah Ikut Serta dalam Pasar Logam Mulia
Agar dapat memanfaatkan tren ini secara optimal, investor disarankan mempertimbangkan strategi berikut:
Rutin menabung dalam ETF emas: Dengan melakukan diversifikasi waktu masuk, risiko fluktuasi harga jangka pendek dapat diminimalkan, sehingga dapat mengikuti tren kenaikan jangka panjang.
Alokasi satu kali secara seimbang: Menambahkan sekitar 5–10% aset terkait emas dalam portofolio yang sudah ada dapat membantu melawan volatilitas pasar dan meningkatkan stabilitas portofolio.
Pantau permintaan industri terhadap perak: Perak memiliki sifat safe haven dan permintaan industri yang terus berkembang, terutama di bidang chip AI dan energi surya, sehingga potensi pengembangannya tidak boleh diabaikan.
Kesimpulan: Emas Menjadi Pilihan Inti dalam Alokasi Aset 2026
Dalam situasi ekonomi dan politik global yang penuh ketidakpastian, emas telah berkembang dari sekadar instrumen safe haven tradisional menjadi media pelindung nilai yang disukai oleh bank sentral, institusi, dan investor ritel. Dengan terus terobosnya aspek teknikal, fundamental yang solid, dan target harga dari lembaga internasional yang terus meningkat, semua indikator mengarah pada tren kenaikan harga emas jangka panjang yang telah terbentuk.
Investor Taiwan selain terus memperhatikan peluang di pasar saham domestik, juga disarankan mengalokasikan sebagian dana ke produk terkait emas dan perak, agar dapat meraih keuntungan seiring pasar internasional sekaligus menambah lapisan perlindungan risiko dalam portofolio mereka.