Belakangan ini ada seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana saya selalu menekankan perlunya perlahan-lahan mengurangi posisi, dan malah bisa membuat modal kecil menjadi semakin besar?
Sebenarnya jawabannya tidak serumit itu — urusan menghasilkan uang, yang menjadi penghalang utama bukanlah teknologi.
Pasar yang menggandakan, sepuluh kali lipat? Siapa yang belum pernah lihat. Saat pasar datang, trader ritel juga punya peluang untuk ikut menikmati. Tapi apa yang benar-benar hebat? Hari ini mendapatkan keuntungan besar, besok satu garis candlestick bearish bisa mengembalikan semuanya. Rasanya itu jauh lebih menyakitkan daripada margin call.
Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Di awal, setelah mendapatkan keuntungan langsung mulai sombong, menambah posisi tanpa batas; saat harga turun, bertahan mati-matian, selalu berharap bisa rebound. Setelah berkali-kali dihajar pasar, barulah saya menyadari biaya pendidikan itu.
Rahasia mengelola posisi sebenarnya cuma dua kata: Menunggu. Bukan menunggu momentum, tapi menunggu pasar yang sudah terkonfirmasi, menunggu gelombang yang bisa dilihat arahnya dengan jelas. Kalau tidak yakin, jangan bergerak. Pemula paling sering tergoda untuk menambah posisi, "coba satu order," akhirnya malah rugi. Ada juga kebiasaan buruk — begitu untung, langsung ingin menambah lagi.
Tapi trading tidak seperti balap mobil, kamu harus belajar untuk berhenti. Uang dari order pertama, ambil dulu modalnya, gunakan keuntungan untuk bertransaksi. Sikap mental langsung berubah.
Metode trading saya sekarang sangat simpel: jika ada keuntungan mengambang, aktif turunkan risiko, jika pasar terus bergerak, baru masuk lagi; kalau sudah benar-benar menggandakan, harus kunci keuntungan, jangan serakah. Karena saya selalu ingat satu kalimat — bertahan dulu, baru bicara soal berapa banyak yang bisa didapat.
Kebanyakan orang bukan kalah karena pasar, tapi kalah karena ketakutan, terburu-buru, mental penjudi, dan bertahan terlalu keras. Daripada bermimpi menjadi kaya dalam semalam, lebih baik tanya diri sendiri apakah bisa menjaga modal. Mendapatkan sepuluh kali lipat dalam satu hari bukanlah hal utama, menjaga modal adalah keahlian sejati.
Kesempatan selalu ada, tapi begitu modal hilang, semua rencana hanyalah mimpi di siang bolong.
Kalau saat ini kamu masih bersorak saat pasar naik, panik saat pasar turun, yang kamu butuhkan bukanlah teknik trading, tapi sense of rhythm. Tidak ada mitos trading, hanya penilaian yang lebih jernih, eksekusi yang lebih tegas, dan kesabaran untuk menunggu yang lebih baik daripada orang lain.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
9 Suka
Hadiah
9
7
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
SerumDegen
· 01-09 08:35
nah ini cuma copium buat orang yang nggak bisa handle leverage lol. iya pasti "kesabaran" terdengar bagus sampai kamu melewatkan pump sebenarnya dan menyaksikannya dari pinggir lapangan.
Lihat AsliBalas0
FOMOSapien
· 01-09 05:28
Tidak ada salahnya, hanya saja banyak orang sama sekali tidak bisa melakukannya. Gatal untuk bertindak itu benar-benar mematikan, saya sendiri juga punya masalah yang sama.
Lihat AsliBalas0
BottomMisser
· 01-07 12:42
Benar sekali, keinginan untuk membeli memang benar-benar pembunuh utama bagi investor ritel, saya sangat merasa terkait dengan bagian ini.
Lihat AsliBalas0
EternalMiner
· 01-06 12:54
Tidak salah, cuma terlalu sulit untuk dipertahankan, satu rebound langsung pengen all in
Lihat AsliBalas0
StakoorNeverSleeps
· 01-06 12:53
Membuat hati terasa sakit banget, aku tipe orang bodoh yang langsung pengen nambah modal begitu dapet keuntungan, terus satu garis merah langsung hilang semua kerugian, haha nangis
Lihat AsliBalas0
OffchainOracle
· 01-06 12:46
Benar sekali, keinginan untuk trading terlalu sering adalah pembunuh terbesar bagi investor ritel, saya juga secara bertahap kehilangan uang sampai akhirnya memahami hal ini.
Lihat AsliBalas0
ContractCollector
· 01-06 12:43
Sejujurnya, saya juga pernah mengalami penyakit tangan gatal ini, sudah cukup sering dipelajari dari pasar. Intinya tetap harus tahu kapan harus berhenti.
Belakangan ini ada seorang teman bertanya kepada saya, bagaimana saya selalu menekankan perlunya perlahan-lahan mengurangi posisi, dan malah bisa membuat modal kecil menjadi semakin besar?
Sebenarnya jawabannya tidak serumit itu — urusan menghasilkan uang, yang menjadi penghalang utama bukanlah teknologi.
Pasar yang menggandakan, sepuluh kali lipat? Siapa yang belum pernah lihat. Saat pasar datang, trader ritel juga punya peluang untuk ikut menikmati. Tapi apa yang benar-benar hebat? Hari ini mendapatkan keuntungan besar, besok satu garis candlestick bearish bisa mengembalikan semuanya. Rasanya itu jauh lebih menyakitkan daripada margin call.
Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Di awal, setelah mendapatkan keuntungan langsung mulai sombong, menambah posisi tanpa batas; saat harga turun, bertahan mati-matian, selalu berharap bisa rebound. Setelah berkali-kali dihajar pasar, barulah saya menyadari biaya pendidikan itu.
Rahasia mengelola posisi sebenarnya cuma dua kata: Menunggu. Bukan menunggu momentum, tapi menunggu pasar yang sudah terkonfirmasi, menunggu gelombang yang bisa dilihat arahnya dengan jelas. Kalau tidak yakin, jangan bergerak. Pemula paling sering tergoda untuk menambah posisi, "coba satu order," akhirnya malah rugi. Ada juga kebiasaan buruk — begitu untung, langsung ingin menambah lagi.
Tapi trading tidak seperti balap mobil, kamu harus belajar untuk berhenti. Uang dari order pertama, ambil dulu modalnya, gunakan keuntungan untuk bertransaksi. Sikap mental langsung berubah.
Metode trading saya sekarang sangat simpel: jika ada keuntungan mengambang, aktif turunkan risiko, jika pasar terus bergerak, baru masuk lagi; kalau sudah benar-benar menggandakan, harus kunci keuntungan, jangan serakah. Karena saya selalu ingat satu kalimat — bertahan dulu, baru bicara soal berapa banyak yang bisa didapat.
Kebanyakan orang bukan kalah karena pasar, tapi kalah karena ketakutan, terburu-buru, mental penjudi, dan bertahan terlalu keras. Daripada bermimpi menjadi kaya dalam semalam, lebih baik tanya diri sendiri apakah bisa menjaga modal. Mendapatkan sepuluh kali lipat dalam satu hari bukanlah hal utama, menjaga modal adalah keahlian sejati.
Kesempatan selalu ada, tapi begitu modal hilang, semua rencana hanyalah mimpi di siang bolong.
Kalau saat ini kamu masih bersorak saat pasar naik, panik saat pasar turun, yang kamu butuhkan bukanlah teknik trading, tapi sense of rhythm. Tidak ada mitos trading, hanya penilaian yang lebih jernih, eksekusi yang lebih tegas, dan kesabaran untuk menunggu yang lebih baik daripada orang lain.