Pada awal tahun 2026, Bitcoin dan mata uang kripto utama mengalami rebound yang signifikan. Harga Bitcoin menembus USD 93.000, meningkat lebih dari 7% sejak awal Januari, Ethereum naik ke sekitar USD 3.224 dengan kenaikan hampir 9%, dan XRP bahkan mengalami kenaikan hampir 29% dalam satu minggu. Di balik kenaikan cepat ini, bukan hanya didorong oleh satu faktor positif, melainkan hasil dari kombinasi kekuatan yang bekerja bersama: pengurangan tekanan insentif pajak, meningkatnya permintaan safe haven akibat ketegangan geopolitik, dan pulihnya preferensi risiko global.
Pengaruh Panen Kerugian Pajak Mereda, Rebound Teknis Dimulai
Pada akhir Desember 2025, pasar AS menunjukkan fenomena khas: sebagian investor menjual aset kripto dengan kerugian untuk mengimbangi pajak keuntungan modal, yang dikenal sebagai “tax-loss harvesting”. Perilaku ini memberi tekanan akhir tahun pada Bitcoin dan token utama lainnya. Memasuki tahun 2026, efek pengurangan pajak ini secara bertahap memudar, sehingga harga secara alami mengalami rebound teknis.
Berdasarkan data pasar, rebound ini memang sedang terjadi. Indeks ketakutan dan keserakahan naik dari 29 di bulan Desember menjadi 40, keluar dari kondisi “ketakutan ekstrem”, dan selisih premi Coinbase kembali ke nol, menunjukkan bahwa institusi di AS mulai kembali membeli. Rasio bullish terhadap bearish tetap di atas 1.0, dan trader mempertahankan kecenderungan net bullish. Indikator-indikator ini secara bersama-sama mengarah pada satu kesimpulan: suasana pasar sedang membaik secara signifikan.
Faktor kedua berasal dari peristiwa risiko makroekonomi. Tindakan militer AS terhadap Venezuela memicu penilaian ulang terhadap ketidakpastian geopolitik. Dalam konteks ini, Bitcoin dan aset safe haven tradisional seperti emas mulai mendapatkan perhatian. Sebagian dana mulai berputar dari aset berisiko tinggi atau yang sudah mengalami kenaikan besar ke Bitcoin, yang dipandang sebagai “aset keras digital”.
Tren ini sangat terlihat dalam transaksi institusional. Contohnya, perusahaan penambangan Bitcoin Marathon Digital baru-baru ini mentransfer 288 BTC ke market maker Wintermute, dengan nilai sekitar USD 26,3 juta saat itu, menunjukkan bahwa institusi melakukan rebalancing aset. Dengan meningkatnya permintaan safe haven, narasi Bitcoin sebagai alat lindung nilai makro semakin diperkuat.
Pulihnya Preferensi Risiko, Efek Keterkaitan dengan Saham Teknologi
Faktor ketiga berasal dari perbaikan suasana risiko aset secara keseluruhan. Pasar saham AS menguat didorong oleh saham teknologi dan konsep kecerdasan buatan, dan data historis menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat antara Bitcoin dan saham teknologi. Diskusi tentang perlambatan inflasi dan ekspektasi penurunan suku bunga di masa depan juga meningkatkan preferensi risiko terhadap aset dengan elastisitas tinggi.
Hal ini terlihat dari perbandingan tahun 2025. Pada tahun tersebut, penurunan Bitcoin sekitar 7%, tetapi ETF terkait kripto tertentu justru naik melawan tren. Contohnya, ARKF (ETF inovasi blockchain dan fintech di bawah kepemilikan Cathie Wood) mencatat pengembalian 29%, dengan memperluas cakupan investasi ke perusahaan teknologi terkait AI. Ini menunjukkan pasar sedang melakukan penyesuaian struktural, bukan sekadar fluktuasi emosional.
Rumor Meski Belum Terbukti, Menguatkan Sentimen Bullish
Perlu dicatat bahwa ada rumor di pasar tentang Venezuela yang mungkin mengendalikan Bitcoin senilai USD 600 miliar. Meskipun data ini belum sepenuhnya diverifikasi melalui analisis on-chain, rumor ini dalam waktu singkat memperbesar sentimen bullish dan menjadi topik hangat di kalangan publik.
Kesimpulan
Performa kuat Bitcoin di awal 2026 merupakan hasil dari resonansi berbagai faktor. Pengurangan tekanan pajak memberikan dasar untuk rebound teknis, risiko geopolitik meningkatkan permintaan safe haven, dan pulihnya preferensi risiko global memperkuat momentum kenaikan. Secara struktural, pasar kripto sedang memasuki fase rebalancing dana yang baru. Volatilitas jangka pendek mungkin masih meningkat, tetapi dari indikator institusi, suasana pasar, dan aliran dana, rebound ini memiliki fondasi keberlanjutan tertentu. Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah momentum kenaikan ini dapat dipertahankan di tengah ketidakpastian ekonomi makro, dan apakah akan menarik lebih banyak dana masuk tambahan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bitcoin menembus $93.000, tiga faktor pendorong utama muncul
Pada awal tahun 2026, Bitcoin dan mata uang kripto utama mengalami rebound yang signifikan. Harga Bitcoin menembus USD 93.000, meningkat lebih dari 7% sejak awal Januari, Ethereum naik ke sekitar USD 3.224 dengan kenaikan hampir 9%, dan XRP bahkan mengalami kenaikan hampir 29% dalam satu minggu. Di balik kenaikan cepat ini, bukan hanya didorong oleh satu faktor positif, melainkan hasil dari kombinasi kekuatan yang bekerja bersama: pengurangan tekanan insentif pajak, meningkatnya permintaan safe haven akibat ketegangan geopolitik, dan pulihnya preferensi risiko global.
Pengaruh Panen Kerugian Pajak Mereda, Rebound Teknis Dimulai
Pada akhir Desember 2025, pasar AS menunjukkan fenomena khas: sebagian investor menjual aset kripto dengan kerugian untuk mengimbangi pajak keuntungan modal, yang dikenal sebagai “tax-loss harvesting”. Perilaku ini memberi tekanan akhir tahun pada Bitcoin dan token utama lainnya. Memasuki tahun 2026, efek pengurangan pajak ini secara bertahap memudar, sehingga harga secara alami mengalami rebound teknis.
Berdasarkan data pasar, rebound ini memang sedang terjadi. Indeks ketakutan dan keserakahan naik dari 29 di bulan Desember menjadi 40, keluar dari kondisi “ketakutan ekstrem”, dan selisih premi Coinbase kembali ke nol, menunjukkan bahwa institusi di AS mulai kembali membeli. Rasio bullish terhadap bearish tetap di atas 1.0, dan trader mempertahankan kecenderungan net bullish. Indikator-indikator ini secara bersama-sama mengarah pada satu kesimpulan: suasana pasar sedang membaik secara signifikan.
Risiko Geopolitik Tingkatkan Permintaan Safe Haven
Faktor kedua berasal dari peristiwa risiko makroekonomi. Tindakan militer AS terhadap Venezuela memicu penilaian ulang terhadap ketidakpastian geopolitik. Dalam konteks ini, Bitcoin dan aset safe haven tradisional seperti emas mulai mendapatkan perhatian. Sebagian dana mulai berputar dari aset berisiko tinggi atau yang sudah mengalami kenaikan besar ke Bitcoin, yang dipandang sebagai “aset keras digital”.
Tren ini sangat terlihat dalam transaksi institusional. Contohnya, perusahaan penambangan Bitcoin Marathon Digital baru-baru ini mentransfer 288 BTC ke market maker Wintermute, dengan nilai sekitar USD 26,3 juta saat itu, menunjukkan bahwa institusi melakukan rebalancing aset. Dengan meningkatnya permintaan safe haven, narasi Bitcoin sebagai alat lindung nilai makro semakin diperkuat.
Pulihnya Preferensi Risiko, Efek Keterkaitan dengan Saham Teknologi
Faktor ketiga berasal dari perbaikan suasana risiko aset secara keseluruhan. Pasar saham AS menguat didorong oleh saham teknologi dan konsep kecerdasan buatan, dan data historis menunjukkan adanya korelasi yang cukup kuat antara Bitcoin dan saham teknologi. Diskusi tentang perlambatan inflasi dan ekspektasi penurunan suku bunga di masa depan juga meningkatkan preferensi risiko terhadap aset dengan elastisitas tinggi.
Hal ini terlihat dari perbandingan tahun 2025. Pada tahun tersebut, penurunan Bitcoin sekitar 7%, tetapi ETF terkait kripto tertentu justru naik melawan tren. Contohnya, ARKF (ETF inovasi blockchain dan fintech di bawah kepemilikan Cathie Wood) mencatat pengembalian 29%, dengan memperluas cakupan investasi ke perusahaan teknologi terkait AI. Ini menunjukkan pasar sedang melakukan penyesuaian struktural, bukan sekadar fluktuasi emosional.
Rumor Meski Belum Terbukti, Menguatkan Sentimen Bullish
Perlu dicatat bahwa ada rumor di pasar tentang Venezuela yang mungkin mengendalikan Bitcoin senilai USD 600 miliar. Meskipun data ini belum sepenuhnya diverifikasi melalui analisis on-chain, rumor ini dalam waktu singkat memperbesar sentimen bullish dan menjadi topik hangat di kalangan publik.
Kesimpulan
Performa kuat Bitcoin di awal 2026 merupakan hasil dari resonansi berbagai faktor. Pengurangan tekanan pajak memberikan dasar untuk rebound teknis, risiko geopolitik meningkatkan permintaan safe haven, dan pulihnya preferensi risiko global memperkuat momentum kenaikan. Secara struktural, pasar kripto sedang memasuki fase rebalancing dana yang baru. Volatilitas jangka pendek mungkin masih meningkat, tetapi dari indikator institusi, suasana pasar, dan aliran dana, rebound ini memiliki fondasi keberlanjutan tertentu. Hal yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah momentum kenaikan ini dapat dipertahankan di tengah ketidakpastian ekonomi makro, dan apakah akan menarik lebih banyak dana masuk tambahan.