Futures kopi Arabica mengalami penurunan pada hari Selasa, ditutup turun 1,95 poin (-0,55%), sementara kontrak robusta mencatat kenaikan modest sebesar 62 poin (+1,57%). Harga kopi sempat naik ke level tertinggi dalam 2 minggu sebelumnya dalam sesi tersebut, tetapi lonjakan tersebut menguap saat indeks dolar melonjak ke puncak 1 minggu, memicu likuidasi posisi panjang di seluruh kompleks kopi.
Masalah Cuaca Tetap Menjaga Dukungan Harga
Meskipun mengalami penurunan, kopi arabica tetap didukung oleh tekanan dari sisi pasokan. Wilayah penanaman premium di Brasil, Minas Gerais, menghadapi kondisi kekeringan minggu ini, menerima hanya 11,1mm hujan—hanya 17% dari norma historis. Sementara itu, Indonesia menghadapi krisis yang lebih akut: banjir di Sumatra telah merusak sekitar sepertiga dari perkebunan arabica negara tersebut dan mengancam pengurangan ekspor kopi hingga 15% pada musim 2025-26, menurut Asosiasi Ekspor dan Industri Kopi Indonesia.
Gambaran Persediaan Memberikan Sinyal Campuran
Persediaan kopi arabica ICE mencapai titik terendah 1,75 tahun sebanyak 398.645 kantong pada bulan November sebelum pulih ke 456.477 kantong minggu lalu. Stok robusta mengikuti pola serupa, menyentuh titik terendah 1 tahun sebanyak 4.012 lot sebelum rebound ke 4.278 lot. Fluktuasi persediaan yang volatil mencerminkan ketidakpastian yang lebih luas di pasar kopi global.
Prospek Produksi Menunjukkan Kelimpahan
Badan perkebunan Brasil Conab meningkatkan perkiraan produksi tahun 2025 sebesar 2,4% menjadi 56,54 juta kantong, menandakan pasokan yang cukup di depan. Vietnam, produsen robusta terbesar di dunia, meningkatkan produksinya secara lebih agresif—ekspor melonjak 39% dari tahun ke tahun pada bulan November menjadi 88.000 MT, dengan total ekspor tahun penuh naik 14,8% menjadi 1,398 MMT. Perkiraan produksi Vietnam untuk 2025/26 diperkirakan naik 6% menjadi 1,76 MMT, menandai level tertinggi dalam 4 tahun.
Gambaran Lebih Besar: Produksi Rekor di Depan
Departemen Pertanian AS memproyeksikan produksi kopi global pada 2025/26 akan mencapai rekor 178,848 juta kantong, naik 2,0% dari tahun sebelumnya. Sementara produksi robusta melonjak 10,9% menjadi 83,333 juta kantong, produksi arabica menghadapi hambatan, menurun 4,7% menjadi 95,515 juta kantong. Stok akhir untuk 2025/26 diperkirakan turun 5,4% menjadi 20,148 juta kantong dari 21,307 juta di tahun berjalan—pasokan yang lebih ketat ini dapat memberikan dukungan harga dalam beberapa bulan mendatang.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Kenaikan dolar membatasi reli kopi Arabica, tetapi kekhawatiran pasokan tetap ada
Futures kopi Arabica mengalami penurunan pada hari Selasa, ditutup turun 1,95 poin (-0,55%), sementara kontrak robusta mencatat kenaikan modest sebesar 62 poin (+1,57%). Harga kopi sempat naik ke level tertinggi dalam 2 minggu sebelumnya dalam sesi tersebut, tetapi lonjakan tersebut menguap saat indeks dolar melonjak ke puncak 1 minggu, memicu likuidasi posisi panjang di seluruh kompleks kopi.
Masalah Cuaca Tetap Menjaga Dukungan Harga
Meskipun mengalami penurunan, kopi arabica tetap didukung oleh tekanan dari sisi pasokan. Wilayah penanaman premium di Brasil, Minas Gerais, menghadapi kondisi kekeringan minggu ini, menerima hanya 11,1mm hujan—hanya 17% dari norma historis. Sementara itu, Indonesia menghadapi krisis yang lebih akut: banjir di Sumatra telah merusak sekitar sepertiga dari perkebunan arabica negara tersebut dan mengancam pengurangan ekspor kopi hingga 15% pada musim 2025-26, menurut Asosiasi Ekspor dan Industri Kopi Indonesia.
Gambaran Persediaan Memberikan Sinyal Campuran
Persediaan kopi arabica ICE mencapai titik terendah 1,75 tahun sebanyak 398.645 kantong pada bulan November sebelum pulih ke 456.477 kantong minggu lalu. Stok robusta mengikuti pola serupa, menyentuh titik terendah 1 tahun sebanyak 4.012 lot sebelum rebound ke 4.278 lot. Fluktuasi persediaan yang volatil mencerminkan ketidakpastian yang lebih luas di pasar kopi global.
Prospek Produksi Menunjukkan Kelimpahan
Badan perkebunan Brasil Conab meningkatkan perkiraan produksi tahun 2025 sebesar 2,4% menjadi 56,54 juta kantong, menandakan pasokan yang cukup di depan. Vietnam, produsen robusta terbesar di dunia, meningkatkan produksinya secara lebih agresif—ekspor melonjak 39% dari tahun ke tahun pada bulan November menjadi 88.000 MT, dengan total ekspor tahun penuh naik 14,8% menjadi 1,398 MMT. Perkiraan produksi Vietnam untuk 2025/26 diperkirakan naik 6% menjadi 1,76 MMT, menandai level tertinggi dalam 4 tahun.
Gambaran Lebih Besar: Produksi Rekor di Depan
Departemen Pertanian AS memproyeksikan produksi kopi global pada 2025/26 akan mencapai rekor 178,848 juta kantong, naik 2,0% dari tahun sebelumnya. Sementara produksi robusta melonjak 10,9% menjadi 83,333 juta kantong, produksi arabica menghadapi hambatan, menurun 4,7% menjadi 95,515 juta kantong. Stok akhir untuk 2025/26 diperkirakan turun 5,4% menjadi 20,148 juta kantong dari 21,307 juta di tahun berjalan—pasokan yang lebih ketat ini dapat memberikan dukungan harga dalam beberapa bulan mendatang.