
Depth chart adalah representasi visual dari order beli dan jual di pasar.
Depth chart menerjemahkan data order book dari exchange menjadi dua kurva atau area: pembeli di sisi kiri dan penjual di sisi kanan. Sumbu horizontal menunjukkan harga, sedangkan sumbu vertikal menampilkan ukuran order kumulatif—yaitu total jumlah order beli atau jual yang mengantre pada atau di bawah/atas harga tertentu. Celah di tengah antara bid tertinggi dan ask terendah disebut spread; semakin kecil spread, semakin cepat order dieksekusi dan semakin rendah biaya transaksi.
Anda mungkin akan melihat “lonjakan” pada level harga tertentu di chart—ini adalah buy wall atau sell wall, yaitu kumpulan order besar yang menunggu eksekusi. Melakukan pembelian tepat di bawah sell wall biasanya sulit terpenuhi, sementara menjual tepat di atas buy wall bisa menghadapi permintaan yang sangat kuat. Depth chart membuat detail ini mudah diamati secara visual, sehingga Anda dapat mengantisipasi slippage—biaya yang muncul ketika order Anda dieksekusi pada harga yang kurang menguntungkan akibat likuiditas terbatas di sisi lawan.
Depth chart berpengaruh langsung pada biaya trading dan manajemen risiko.
Aset utama seperti BTC dan ETH umumnya memiliki order book tebal dan spread ketat, sehingga order senilai $10.000 hampir tidak memengaruhi harga. Sebaliknya, pada token kecil atau di luar jam sibuk, depth yang tipis berarti bahkan transaksi beberapa ribu dolar dapat mendorong harga naik atau turun secara signifikan. Dengan membaca depth chart, Anda bisa mengantisipasi pergerakan harga dan menghindari slippage berlebih akibat transaksi spontan.
Pada saat listing token baru, peristiwa besar, atau periode volatilitas tinggi, depth pasar bisa “menipis” dan order wall bergerak cepat. Dengan memantau depth chart, Anda dapat memilih tipe order yang lebih bijak—seperti limit order, split order, atau menunggu di luar pasar—untuk mengurangi risiko terkena “stopped out” oleh lonjakan harga.
Bagi pengguna yang melakukan grid trading, arbitrase, atau aktivitas berbasis tugas, pemahaman depth chart membantu memilih pasangan trading dan waktu yang lebih optimal sehingga meningkatkan efisiensi eksekusi.
Depth chart mengubah data order book menjadi kurva yang intuitif.
Order book adalah daftar order beli dan jual yang diurutkan berdasarkan harga. Sistem akan menggabungkan order pada setiap level harga, lalu menghitung total kumulatif ke arah tengah: sisi beli dijumlahkan dari bid tertinggi ke bawah, sisi jual dijumlahkan dari ask terendah ke atas. Sumbu vertikal menunjukkan “total kuantitas yang tersedia hingga harga ini” yang menunggu eksekusi.
Umumnya terdapat dua mode tampilan: “non-kumulatif” (batang/titik yang menunjukkan volume pada level harga tertentu) dan “kumulatif” (tangga/area yang menampilkan total volume dari harga saat ini ke dalam). Sebagian besar platform menggunakan mode kumulatif karena lebih efektif menggambarkan dampak pasar.
Fitur lain yang umum adalah agregasi level harga—menggabungkan kenaikan harga kecil yang berdekatan ke dalam rentang yang lebih besar (misalnya, konsolidasi kenaikan $0,01 menjadi rentang $0,10). Ini membuat chart lebih mudah dibaca untuk penilaian cepat, namun untuk eksekusi presisi, gunakan interval yang lebih kecil untuk detail lebih lengkap.
Indikator paling utama adalah spread, order wall, dan perubahan depth.
Pada exchange terpusat (CEX) seperti spot atau futures Gate, Anda dapat mengaktifkan depth chart, mengatur interval agregasi, dan melihat depth kumulatif. Saat token baru diluncurkan, spread biasanya lebar, depth tipis, dan sell wall mendominasi; seiring market maker masuk dan order alami bertambah, spread menyempit dan kedua sisi chart semakin tebal.
Sebelum atau sesudah pergerakan pasar besar, depth bisa “bernapas.” Saat volatilitas tinggi, banyak order dibatalkan atau tersapu, membuat kedua sisi menjadi curam dan spread melebar. Setelah berita terserap dan volatilitas menurun, chart perlahan kembali ke kondisi yang lebih stabil.
Pada exchange terdesentralisasi berbasis CLOB (order book DEX) atau platform perpetual contract, depth chart juga membantu menilai risiko slippage dan likuidasi. Tidak seperti DEX model AMM DEX yang menggunakan pool harga, depth order book menekankan distribusi antrean—sehingga posisi dan ukuran wall sangat menentukan.
Tujuannya adalah memanfaatkan distribusi volume dan harga pada chart untuk eksekusi yang lebih aman.
Pilih Mode Agregasi dan Tampilan yang Sesuai
Agregasi yang terlalu lebar akan menyamarkan detail; terlalu kecil menciptakan noise. Mulailah dengan interval kasar untuk mengidentifikasi buy/sell wall utama, lalu gunakan interval lebih kecil untuk detail presisi.
Baca Spread dan Nilai Momentum Likuiditas
Spread kecil dengan kurva mulus menandakan likuiditas melimpah—ideal untuk limit order atau market order kecil. Spread lebar dengan kurva curam perlu diwaspadai agar terhindar dari slippage.
Identifikasi Order Wall dan Gap
Di bawah wall terdapat dukungan; di atas wall menghadapi resistensi. Gap (zona tipis) berarti order sedang saja bisa menggerakkan harga secara tajam. Hindari menempatkan order di area lemah atau manfaatkan wall untuk eksekusi jangka pendek agar peluang sukses lebih besar.
Perkirakan Dampak Pasar dan Pecah Order
Analisis depth kumulatif: Jika Anda ingin membeli $10.000 tetapi hanya tersedia $7.000 pada ask dalam +0,3% dari harga saat ini dan $15.000 dalam +0,6%, market order kemungkinan besar akan terkena slippage 0,4%–0,6%. Memecah order di bawah wall utama sering kali menekan biaya.
Pilih Alat Order dan Atur Kontrol Risiko
Di platform seperti Gate, limit order cocok untuk eksekusi pasif dekat lawan transaksi; split order atau time-weighted order bisa meratakan dampak pasar. Selalu tetapkan level stop-loss/take-profit untuk mengelola risiko volatilitas mendadak.
Likuiditas semakin tidak merata dalam setahun terakhir—menjadikan metrik utama semakin penting.
Dari 2025 hingga awal 2026, aset utama umumnya tetap pada spread sempit hampir sepanjang waktu, sedangkan aset long-tail menunjukkan fluktuasi spread dan depth harian yang lebih ekstrem. Untuk trader reguler, pantau empat metrik berikut:
Dari sisi produk, antara akhir 2025 dan awal 2026, banyak platform menambah fitur toggle kumulatif/non-kumulatif, shortcut agregasi cepat, dan indikator dampak pasar pada depth chart mereka. Pengalaman mobile juga semakin baik untuk penilaian biaya yang lebih cepat di tengah volatilitas.
Depth chart menampilkan likuiditas saat ini; candlestick chart menunjukkan harga historis.
Candlestick (K-line) chart menampilkan data open-high-low-close dan volume sepanjang waktu—berguna untuk analisis tren. Depth chart memvisualisasikan distribusi order pada tiap level harga—membantu menilai apakah Anda bisa eksekusi pada harga/ukuran yang diinginkan dan memperkirakan slippage serta risiko pasca trading.
Menggunakan kedua chart secara bersamaan adalah yang terbaik: jika candlestick chart menunjukkan harga mendekati resistance sementara depth chart memperlihatkan sell wall besar, menembusnya butuh volume besar; sebaliknya, jika sell wall terserap dan depth atas menipis, peluang breakout meningkat. Tentukan arah dengan candlestick; optimalkan eksekusi dengan depth chart.
Hijau biasanya menandakan order beli (bid), sedangkan merah menunjukkan order jual (ask). Semakin pekat warna hijau, semakin kuat tekanan beli di harga tersebut; merah yang semakin gelap menandakan tekanan jual yang lebih besar. Dengan mengamati ketebalan dan tinggi kedua sisi, Anda dapat menilai keseimbangan supply dan demand pasar secara cepat.
Lonjakan menandakan kumpulan order besar pada harga tertentu—sering kali merupakan level psikologis atau zona support/resistance. Gap menunjukkan likuiditas rendah pada harga tertentu yang bisa ditembus dengan cepat. Fitur ini membantu Anda mengidentifikasi level kunci dan potensi risiko slippage.
Token dengan likuiditas rendah biasanya memiliki depth chart yang curam dan jarang dengan gap besar antar order. Artinya, transaksi besar menyebabkan slippage tinggi dan pergerakan harga tajam. Sebelum trading token seperti ini, selalu cek depth chart-nya di platform tepercaya seperti Gate untuk memastikan likuiditas sesuai dengan ukuran transaksi Anda.
Taktik ini disebut “order spoofing” atau “order bombing”, di mana pelaku menciptakan likuiditas palsu untuk memanipulasi harga. Jika Anda melihat order tebal yang cepat menghilang di level kunci, ini menandakan kemungkinan manipulasi psikologis. Tetap waspada—jangan mudah tertipu oleh likuiditas artifisial.
Nilai tiga faktor utama: depth keseluruhan (apakah distribusi order seimbang?), ukuran spread (masuk akal atau tidak?), dan frekuensi pembatalan order (apakah order stabil?). Depth merata dengan spread ketat dan order stabil menandakan likuiditas baik dan biaya trading rendah; jika tidak, risikonya lebih tinggi. Exchange terkemuka seperti Gate biasanya menawarkan depth pasar berkualitas tinggi.


