
Arsitektur berlapis internet adalah model yang membagi komunikasi jaringan menjadi beberapa lapisan terpisah, di mana masing-masing memiliki tanggung jawab khusus. Struktur paling umum terdiri dari empat lapisan: Application, Transport, Network, dan Link. Desain ini memungkinkan setiap protokol berjalan secara independen di setiap lapisan, namun tetap terintegrasi secara mulus.
Anda bisa membayangkannya seperti sistem pos: Application layer setara dengan isi surat dan aturan layanan yang disepakati (seperti protokol web browsing). Transport layer menentukan metode pengiriman surat (memilih antara keandalan dan kecepatan, seperti pengiriman tercatat atau ekspres). Network layer memilih rute berdasarkan alamat tujuan (routing dan addressing). Link layer adalah jalur fisik dan pengantaran akhir (kabel ethernet atau Wi-Fi). Pemisahan ini memungkinkan setiap lapisan fokus pada tugasnya sendiri, namun tetap terkoordinasi melalui antarmuka yang jelas.
Pelapisan dalam arsitektur internet bertujuan untuk memisahkan fungsi, memudahkan interoperabilitas, menyederhanakan troubleshooting, dan memungkinkan skalabilitas. Lapisan atas tidak perlu memahami detail lapisan bawah, dan lapisan bawah dapat diperbarui secara mandiri.
Misalnya, saat browser menambahkan dukungan metode enkripsi web baru, Anda tidak perlu mengganti kartu jaringan. Jika ISP mengoptimalkan routing, hal tersebut tidak memengaruhi logika aplikasi website. Pelapisan juga memudahkan troubleshooting: apakah masalah terjadi pada protokol web (Application layer), port yang diblokir (Transport layer), atau kegagalan resolusi alamat (Network layer)? Antarmuka standar antar lapisan memungkinkan konektivitas global.
Arsitektur berlapis internet, OSI, dan TCP/IP memiliki hubungan sebagai berikut: OSI adalah model referensi tujuh lapisan, sedangkan TCP/IP adalah model praktis yang paling luas digunakan dengan empat atau lima lapisan. Sebagian besar implementasi internet nyata mengikuti stack TCP/IP.
Tujuh lapisan OSI (Application, Presentation, Session, Transport, Network, Data Link, Physical) digunakan untuk tujuan edukasi dan konseptual. Model TCP/IP biasanya menggabungkan "Application/Presentation/Session" menjadi satu Application layer dan "Data Link/Physical" menjadi Link layer, dengan Transport dan Network layer tetap terpisah di antaranya. Memahami pemetaan ini membantu menghubungkan model teoretis dengan operasi jaringan sebenarnya.
Tanggung jawab setiap lapisan dalam arsitektur internet dapat dijelaskan melalui protokol umum berikut:
Arsitektur berlapis sangat mendasar di Web3: node, wallet, dan frontend semuanya bergantung padanya untuk komunikasi. JSON-RPC adalah protokol remote procedure call yang biasanya menggunakan HTTP atau WebSocket untuk mengirim permintaan ke node blockchain, mewakili protokol dan format data pada Application layer.
P2P (peer-to-peer) networking—inti banyak blockchain—membangun hubungan peer dan penyebaran pesan di Application layer, namun tetap bergantung pada TCP/UDP dan IP di lapisan bawah. Content-addressing pada IPFS diatur oleh aturan Application layer, sementara transfer data bergantung pada Transport dan Network layer untuk mencapai tujuan yang benar.
Arsitektur berlapis internet secara langsung memengaruhi API call ke Gate: permintaan dikirim menggunakan HTTPS pada Application layer, sementara Transport (TCP), Network (IP), dan Link (Ethernet/jaringan seluler) membawa data ke server. Masalah di salah satu lapisan dapat menyebabkan kegagalan panggilan.
Pada Application layer, timestamp atau format signature yang salah akan menyebabkan permintaan API ditolak; validasi sertifikat HTTPS yang gagal akan memutus koneksi. Pada Transport layer, firewall yang memblokir port TCP dapat menyebabkan timeout. Pada Network layer, kesalahan resolusi DNS atau rute yang tidak dapat dijangkau akan menghambat koneksi. Pada Link layer, Wi-Fi yang tidak stabil atau kabel longgar bisa menyebabkan transmisi data tidak andal. Untuk transaksi keuangan, selalu verifikasi sertifikat HTTPS dan sumber domain API untuk mengurangi risiko serangan man-in-the-middle.
Troubleshooting dalam arsitektur ini paling efektif dilakukan secara berurutan dari Application layer ke Link layer—dengan mengonfirmasi tiap level secara sistematis.
Arsitektur berlapis internet adalah fondasi jaringan nyata, sedangkan P2P overlay networks dibangun di atas Application layer sebagai struktur routing virtual. Overlay network mendefinisikan hubungan peer dan strategi penyebaran pesan sendiri, namun tetap bergantung pada IP di bawahnya untuk pengiriman data ke endpoint.
Misalnya, Gossip protocol blockchain menentukan di Application layer node mana yang menerima pesan blok atau transaksi—mirip berbagi informasi di jejaring sosial. BitTorrent juga menggunakan hubungan peer pada Application layer untuk pertukaran fragmen file. Meskipun berbeda dengan routing tingkat ISP (Network layer), overlay network tetap membutuhkan routing nyata (Network) dan transmisi (Link) di lapisan bawah.
Risiko keamanan dapat muncul di setiap lapisan: manipulasi DNS, konfigurasi sertifikat TLS yang salah, pembajakan rute, port poisoning, atau penyadapan pada link layer. Memahami pelapisan membantu menargetkan pertahanan secara efektif.
Tren utama meliputi modernisasi addressing dan mekanisme transport, penggunaan enkripsi secara luas, dan latensi yang lebih rendah. Berdasarkan statistik IPv6 Google, lalu lintas global IPv6 mencapai sekitar 40%-45% pada 2024 (sumber), menyediakan ruang alamat besar untuk perangkat IoT dan mobile.
HTTP/3 dengan QUIC (berbasis UDP) menurunkan latensi handshake dan meningkatkan performa di jaringan tidak stabil; CDN dan website besar telah banyak mengadopsinya pada akhir 2024. Protokol DNS terenkripsi (DoH/DoT) mengamankan proses resolusi nama dalam saluran terenkripsi untuk privasi yang lebih baik. 5G dan edge computing membawa aplikasi lebih dekat ke pengguna—mendorong optimalisasi kontrol kemacetan dan pemilihan jalur dalam arsitektur berlapis.
Arsitektur berlapis internet membagi komunikasi menjadi empat lapisan utama—Application, Transport, Network, dan Link—masing-masing bertanggung jawab atas tugas tertentu namun berkolaborasi melalui antarmuka yang jelas. Memahami model ini memperjelas hubungan OSI-TCP/IP; membantu Anda merancang komunikasi node/frontend di Web3; troubleshooting API call Gate; dan membuat keputusan tepat terkait keamanan serta tren terbaru. Untuk troubleshooting, menelusuri tiap lapisan dari atas ke bawah biasanya memberikan diagnosis lebih cepat; untuk future-proofing sistem, perhatikan adopsi IPv6, penerapan HTTP/3/QUIC, serta protokol DNS terenkripsi untuk stabilitas dan keamanan yang lebih baik.
Application dan Transport layer adalah lapisan yang paling sering menjadi bottleneck performa. Application layer memproses logika bisnis—konkurensi tinggi dapat memperlambat respons. Transport layer mengontrol aliran data dan kemacetan—ketidakstabilan jaringan berdampak langsung pada kecepatan. Bottleneck dapat diatasi dengan caching, optimasi algoritma, atau penggunaan CDN.
Masalah timeout biasanya melibatkan Application, Transport, dan Network layer. Pertama, cek apakah logika bisnis di Application layer lambat; selanjutnya periksa status koneksi TCP dan pengaturan timeout di Transport layer; terakhir konfirmasi routing dan latensi di Network layer. Mulai troubleshooting dari log aplikasi sebelum menyesuaikan parameter timeout agar sesuai dengan kondisi jaringan aktual.
Data trading dari blockchain node melewati: Application layer (smart contract parsing) → Transport layer (TCP/UDP packaging) → Network layer (IP routing) → Data Link layer (MAC address mapping) → Physical layer (sinyal fiber optik/listrik) sebelum sampai ke perangkat Anda. Exchange seperti Gate mengoptimalkan protokol di seluruh lapisan ini agar data transaksi sampai ke wallet pengguna secara cepat dan andal.
Perbedaan kecepatan jaringan berasal dari disparitas regional pada berbagai lapisan. Routing di Network layer dioptimalkan menurut geografi; kualitas Data Link layer bergantung pada ISP lokal; infrastruktur fisik juga bervariasi di tiap wilayah. Gate menerapkan node global dan CDN agar pengguna di berbagai wilayah mengakses melalui jalur optimal—mengurangi latensi lintas wilayah.
Troubleshooting dilakukan berurutan dari atas ke bawah: mulai dari Application layer (cek kode DApp untuk error), lalu cek konektivitas Transport layer (apakah koneksi berhasil?), periksa keterjangkauan Network layer (bisa ping server?), terakhir inspeksi koneksi fisik (kabel terpasang? kekuatan sinyal?). Sebagian besar masalah berasal dari Application atau Transport layer—developer tools di browser dapat dengan cepat menampilkan status koneksi HTTP/WebSocket untuk identifikasi akar masalah secara cepat.


